Di tengah hiruk pikuk Jalan Sulaiman, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sebuah pemandangan sederhana namun sarat makna tersaji setiap hari. Di atas selembar plastik tipis yang terhampar langsung di trotoar, Bambang dengan telaten menyusun bunga melati, mawar, dan daun pandan. Tanpa meja atau alas mewah, lapak kecilnya hanya berjarak beberapa langkah dari lalu-lalang kendaraan yang tak henti.
Kawasan Rawa Belong telah lama dikenal sebagai sentra bunga terbesar di Ibu Kota. Namun, di antara deretan kios floris modern, Bambang memilih jalur yang paling fundamental: berjualan bunga tabur. “Saya dari awal memang jualannya begini, di pinggir jalan, yang penting bunganya rapi dan masih segar,” tutur Bambang saat ditemui tim redaksi Mureks pada Sabtu (3/1/2026) lalu.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, Bambang sudah tiba untuk menggelar dagangannya. Bunga-bunga segar itu ia peroleh dari pemasok lokal di sekitar Rawa Belong, sebuah ekosistem yang menghubungkan petani dari berbagai daerah langsung ke tangan penjual. Dari sana, bunga-bunga kembali diracik ulang, disesuaikan dengan kebutuhan para pembeli.
Bambang secara spesifik hanya menjual bunga tabur, tidak seperti floris lain yang menawarkan bunga papan, buket, atau rangkaian dekoratif. Keputusan ini diambilnya karena ia melihat pasar bunga tabur memiliki segmen yang jelas dan konsisten. “Orang ke sini biasanya sudah tahu mau beli apa. Kalau mau ziarah, ya pasti cari bunga tabur,” jelasnya.
Proses meracik bunga dilakukan langsung di lapaknya. Dengan cekatan, Bambang memilah bunga satu per satu, menyingkirkan yang layu, lalu mencampur sesuai permintaan khusus pelanggan. “Ada yang minta melatinya dibanyakin, soalnya wangi. Ada juga yang minta pandan lebih banyak biar awet,” katanya sambil jemarinya terus bergerak.
Interaksi dengan pembeli berlangsung singkat namun akrab. Banyak yang berhenti sejenak dengan motor, turun, membeli, lalu melanjutkan perjalanan. Ada pula yang datang bersama keluarga. “Biasanya mereka nggak lama. Datang, beli, langsung jalan,” ujar Bambang.
Ritme Penjualan dan Tantangan Cuaca
Ritme penjualan bunga tabur sangat bergantung pada kebiasaan masyarakat. Pada hari-hari biasa, pembeli tetap ada meski tidak terlalu padat. Namun, menjelang hari besar keagamaan, suasana berubah drastis. “Kalau mau Ramadan atau Lebaran, atau seperti Natal kemarin, itu rame. Bunganya bisa cepat habis,” ungkapnya.
Harga bunga tabur pun menyesuaikan dinamika pasar. Dalam kondisi normal, satu kantong bunga tabur dijual sekitar Rp 80.000. Namun, saat permintaan melonjak, harganya bisa naik. “Kalau lagi rame, bisa sampai Rp100 ribu. Itu juga ngikut harga dari sana,” kata Bambang, merujuk pada harga dari pemasok.
Selain bunga tabur, Bambang juga menyediakan air mawar, yang seringkali menjadi pelengkap bagi para peziarah. “Biasanya sekalian beli. Buat nyiram makam biar lebih wangi,” ucapnya.
Berjualan di pinggir jalan tentu memiliki tantangannya sendiri, terutama terkait cuaca. Panas terik dapat membuat bunga cepat layu, sementara hujan bisa datang tiba-tiba dan memaksa Bambang untuk segera membereskan dagangannya. “Kalau hujan ya buru-buru diberesin. Namanya juga jualan di luar,” katanya sambil tersenyum kecil.
Meskipun dikelilingi oleh kios floris besar yang menawarkan beragam jenis bunga, Bambang tidak merasa tersaingi. Menurutnya, kebutuhan bunga tabur memiliki pasar yang berbeda dengan bunga hias atau rangkaian. “Pasarnya beda. Yang mau bunga tabur pasti nyari yang praktis,” ujarnya.
Bagi Bambang, kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama bisnisnya. Tanpa banyak variasi dagangan, ia bisa sepenuhnya fokus pada kualitas bunga yang ia jual. “Yang penting bunganya masih bagus. Itu aja,” katanya singkat, menegaskan prinsipnya.
Di tengah gemuruh Rawa Belong, Bambang tetap setia pada lapak sederhananya. Meracik bunga tabur di atas plastik tipis yang bersentuhan langsung dengan aspal jalanan, bunga-bunga itu terus menemukan jalannya ke tangan pembeli, membawa serta tujuan yang sama: penghormatan dan doa.






