Tren

Densus 88 Ungkap Remaja 14 Tahun di Jepara Gabung True Crime Community, Ingin Picu Kekerasan Sadistik di Sekolah

Densus 88 Antiteror Polri mengungkap adanya seorang anak berusia 14 tahun di Jepara, Jawa Tengah, yang berambisi menjadi pelopor kekerasan sadistik di lingkungan sekolah. Remaja tersebut diketahui telah bergabung dengan komunitas daring bernama true crime community (TCC) yang menganut paham ekstremis dan ideologi kekerasan.

“Ini bisa ditangani oleh Densus 88 bersama dengan Polda Jawa Tengah,” kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1).

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Mayndra menjelaskan, dalam sebuah video yang ditunjukkan saat konferensi pers, anak di Jepara itu memperagakan penggunaan senjata api di lingkungan sekolah. Aksi tersebut merupakan simulasi sebelum ia benar-benar melancarkan kekerasan.

“Yang bersangkutan ingin menjadi trigger atau menjadi pelopor dari kekerasan yang dilakukan atas nama TCC (true crime community),” tegas Mayndra. Mureks mencatat bahwa, meskipun telah dilakukan intervensi oleh Densus 88 bersama kementerian/lembaga terkait, anak tersebut masih menunjukkan keinginan kuat untuk melakukan aksi kekerasan.

Lebih lanjut, Mayndra mengungkapkan bahwa remaja tersebut pernah membawa pisau ke sekolah. Selain itu, ia juga memiliki koneksi internasional dengan REDA, pendiri kelompok Berber Nationalist Third-positionist Group (BNTG) yang berbasis di Prancis.

“Ini adalah gerakan nasionalisme etnis Berber berbasis daring dengan ideologi Third Positionist, berorientasi pada penyatuan identitas dan pembebasan politik etnis,” jelas Mayndra mengenai kelompok BNTG.

Kasus Serupa di Singkawang

Kasus serupa tidak hanya terjadi di Jepara. Densus 88 juga mengintervensi sejumlah anak lain yang tergabung dalam true crime community, termasuk seorang anak berusia 11 tahun di Singkawang, Kalimantan Barat.

“Cepat terdeteksi, kemudian dicegah,” ujar Mayndra, menekankan pentingnya deteksi dini dalam kasus-kasus seperti ini.

Anak di Singkawang tersebut diketahui memiliki rencana untuk melakukan penyerangan di sekolah menggunakan bahan peledak, senjata tajam, dan senjata api. Ia bahkan mengaku sudah menyiapkan pisau di tas sekolah, namun aksinya berhasil digagalkan setelah ketahuan oleh guru.

Diduga kuat, motivasi anak tersebut melakukan kekerasan adalah karena merasa dijauhi oleh rekan-rekannya dan ingin melampiaskan balas dendam.

Referensi penulisan: koran-jakarta.com

Mureks