Tren

Kristi Noem: “Armada Hantu Tidak Akan Lolos dari Keadilan,” AS Sita Kapal Tanker Venezuela

Amerika Serikat kembali menyita sebuah kapal tanker yang berupaya menerobos blokade angkatan laut di perairan Karibia. Insiden yang terjadi pada Sabtu, 10 Januari 2026, ini menandai penyitaan kelima dalam beberapa pekan terakhir sebagai bagian dari upaya Washington mencegah kapal-kapal yang dikenai sanksi untuk berlayar menuju atau meninggalkan Venezuela.

Aksi Penjaga Pantai dan Pernyataan Pejabat AS

Kapal terbaru yang disita adalah “Olina”, yang menurut Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem, merupakan “kapal tanker ‘armada hantu’ lain yang diduga membawa minyak terlarang” yang “berangkat dari Venezuela untuk menghindari pasukan AS.” Noem menegaskan bahwa Penjaga Pantai AS yang melakukan penyitaan tersebut.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Melalui akun X pribadinya pada Jumat (9/1), Noem menyatakan, “Armada hantu itu tidak akan lolos dari keadilan. Mereka tidak akan bersembunyi di balik klaim kewarganegaraan palsu.”

Komando Selatan AS (Southcom) menambahkan bahwa personel Marinir dan Angkatan Laut AS turut serta dalam operasi penyitaan kapal tersebut. Operasi ini diluncurkan dari USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia. Southcom juga mengunggah klip video di X yang menunjukkan pasukan AS turun dari helikopter dan mengambil alih kendali kapal, disertai pesan, “Sekali lagi, pasukan gabungan antarlembaga kita mengirimkan pesan yang jelas pagi ini: ‘Tidak ada tempat aman bagi para penjahat.'”

Blokade Maritim AS di Karibia

Pengerahan kekuatan angkatan laut AS yang besar di Karibia bertujuan untuk menyerang kapal-kapal yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba, menyita kapal tanker, dan melakukan operasi penangkapan terhadap pemimpin sayap kiri Venezuela. Blokade ini merupakan bagian dari tekanan berkelanjutan AS terhadap pemerintahan Venezuela.

Perintah Presiden Trump dan Insiden Kapal Rusia

Presiden Donald Trump kemudian mengonfirmasi bahwa penyitaan kapal “Olina” dilakukan berkoordinasi dengan otoritas sementara di Venezuela, setelah kapal tersebut meninggalkan negara itu tanpa persetujuan AS. Dalam unggahan di platform Truth Social miliknya, Trump menyatakan, “Kapal tanker ini sekarang sedang dalam perjalanan kembali ke Venezuela, dan minyaknya akan dijual.”

Mureks merangkum, sejak bulan lalu, Trump telah memerintahkan “blokade” terhadap kapal-kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang berlayar menuju dan dari Venezuela. Sejak perintah tersebut, pasukan Amerika telah menguasai lima kapal, termasuk tiga kapal dalam pekan ini.

Di antara kapal-kapal yang disita adalah sebuah kapal terkait Rusia yang berhasil ditangkap di Atlantik Utara pada Rabu (7/1). Operasi ini dikecam oleh Moskow, setelah kapal tersebut dikejar oleh Amerika Serikat dari lepas pantai Venezuela. Trump sempat mengungkapkan kepada Fox News bahwa kapal tanker yang disita sehari sebelumnya dikawal oleh kapal selam Rusia dan sebuah kapal perusak. “Mereka berdua pergi dengan sangat cepat begitu kami tiba dan kami mengambil alih kapal,” kata presiden AS, seraya menolak menyebutkan apakah Presiden Rusia, Vladimir Putin, menghubunginya setelah penyitaan tersebut.

Mureks