Internasional

Delcy Rodríguez: “Penculikan Brutal!” Usai Presiden Venezuela Maduro Tiba di AS Dikawal FBI

Presiden Venezuela Nicolás Maduro dilaporkan telah tiba di pangkalan militer Amerika Serikat (AS) pada Minggu, 04 Januari 2026, setelah ditangkap oleh pasukan AS di Caracas. Kedatangan Maduro di tanah AS dikawal ketat oleh agen Federal Bureau of Investigation (FBI).

Menurut pantauan Mureks, Maduro terlihat dikelilingi oleh agen FBI saat menuruni tangga pesawat pemerintah AS di fasilitas Garda Nasional negara bagian New York. Ia kemudian perlahan-lahan dikawal di sepanjang landasan pacu, sebagaimana dilansir AFP.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Pemimpin sayap kiri Venezuela itu diperkirakan akan segera diterbangkan menggunakan helikopter menuju Kota New York. Di sana, ia akan menghadapi serangkaian tuduhan terkait perdagangan narkoba yang telah lama dialamatkan kepadanya oleh otoritas AS.

Tuntutan Pembebasan dari Venezuela

Penangkapan Maduro memicu reaksi keras dari pemerintah Venezuela. Wakil Presiden Delcy Rodríguez menuntut pembebasan segera Presiden Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang juga ditangkap dalam operasi militer AS tersebut. Rodríguez dengan tegas menyebut aksi militer AS ini sebagai “penculikan yang brutal.”

Tuntutan tersebut disampaikan Rodríguez beberapa jam setelah penangkapan Maduro dan Flores, yang dilakukan melalui operasi AS di Caracas dan beberapa wilayah lain di negara Amerika Selatan itu, seperti dilaporkan CNN.

Washington membenarkan tindakan tersebut, beralasan bahwa pasangan tersebut dan sejumlah tokoh publik Venezuela lainnya bertanggung jawab atas terorisme narkoba, perdagangan narkoba, dan berbagai kejahatan lainnya. Tuduhan-tuduhan ini secara konsisten ditolak oleh Caracas.

Dalam sesi Dewan Pertahanan Nasional yang disiarkan oleh jaringan televisi pemerintah VTV, Rodríguez menyatakan, “Kami menuntut pembebasan segera Presiden Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores.” Ia juga menegaskan posisi Maduro sebagai “satu-satunya Presiden Venezuela.”

Mureks mencatat bahwa insiden ini semakin memperuncing ketegangan antara Washington dan Caracas yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, dengan AS secara terbuka mendukung oposisi Venezuela dan menekan pemerintahan Maduro.

Mureks