Kampung Setu, sebuah wilayah di pinggiran Jakarta, menyimpan sejarah panjang dalam perkembangan geografis dan sosialnya. Dahulu, daerah ini dikenal sebagai kawasan yang dikelilingi oleh hamparan sawah, rawa, dan situ atau danau. Keasrian alamnya sangat identik dengan pepohonan bambu berduri yang tumbuh liar, menciptakan lanskap pedesaan yang khas.
Namun, seiring berjalannya waktu, pembangunan dan urbanisasi yang pesat telah membawa perubahan signifikan pada wajah Kampung Setu serta kehidupan masyarakatnya. Meskipun demikian, akar tradisi dan nilai-nilai lokal masih dipegang teguh oleh warga setempat, tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Transformasi dari Pedesaan ke Perkotaan
Dalam perkembangannya, Kampung Setu mengalami transformasi dari wilayah pedesaan yang didominasi aktivitas pertanian dan perikanan, menjadi daerah permukiman padat yang terintegrasi dengan perkembangan kota. Masjid tetap menjadi pusat spiritual dan sosial, menggambarkan peran penting agama dalam kehidupan masyarakat. Kampung ini tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga memelihara warisan budaya di tengah modernisasi.
Nama “Setu” sendiri, menurut Mureks, mengacu pada keberadaan situ atau danau kecil yang dahulu mendominasi lanskap kampung. Dalam bahasa Sunda, “setu” berarti danau, sebuah warisan pengaruh budaya Sunda yang kental di kawasan Jakarta dan sekitarnya pada masa lalu. Situ ini dulunya menjadi sumber air vital bagi masyarakat, dimanfaatkan untuk irigasi sawah dan tempat mencari ikan.
Seiring waktu, situ yang menjadi ciri khas tempat ini berangsur-angsur menyusut, baik karena faktor alamiah maupun akibat pembangunan di sekitarnya. Meski demikian, nama “Setu” tetap melekat sebagai penanda identitas sejarah, meskipun banyak warga baru yang mungkin tidak lagi mengenal asal-usul nama tersebut. Nama ini berfungsi sebagai pengingat akan eratnya hubungan kampung dengan alam, khususnya sumber daya air.
Asal-usul Nama dan Legenda Lokal
Terkait asal-usul nama Setu, terdapat beberapa versi dan interpretasi yang berkembang di masyarakat. Sebagian berpendapat nama ini murni diambil dari keberadaan situ, sementara yang lain meyakini adanya kaitan dengan legenda atau kisah lokal yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Salah satu versi menyebutkan situ tersebut memiliki nilai spiritual. Ada cerita lama yang berkembang bahwa di sekitar situ pernah ada tokoh atau sesepuh kampung yang memiliki pengaruh besar dalam mengelola kehidupan sosial dan religius warga. Kehadiran tokoh ini konon terkait dengan pemilihan nama Setu, meskipun bukti historis yang menguatkan cerita ini tidak pernah terdokumentasikan secara resmi.
Versi lain mengaitkan nama Setu dengan peristiwa atau fenomena alam tertentu, seperti banjir besar atau pembentukan danau secara tiba-tiba akibat gempa bumi atau longsor. Namun, cerita-cerita semacam ini lebih bersifat legenda dan belum dapat diverifikasi dengan data sejarah yang akurat.
Kontroversi mengenai asal-usul nama Setu juga menyentuh bagaimana identitas lokal bertransformasi seiring modernisasi. Beberapa pihak menyayangkan semakin banyaknya pendatang yang tidak memahami atau menghargai sejarah dan asal-usul nama tersebut, yang dianggap sebagai bagian penting dari warisan budaya daerah.
Transformasi Geografis dan Ekonomi
Secara geografis, Kampung Setu dulu dikenal dengan hamparan sawah, rawa, dan lahan basah yang kaya pepohonan bambu berduri. Bambu ini menjadi ciri khas alam setempat, memberikan perlindungan alami dan dimanfaatkan masyarakat untuk bahan bangunan atau alat pertanian. Wilayah yang subur ini mendukung kehidupan warga yang mayoritas bertani padi dan mencari ikan di rawa-rawa sekitar.
Namun, kondisi geografis ini lambat laun mengalami perubahan drastis. Pembangunan infrastruktur seperti perumahan, jalan raya, dan pusat-pusat komersial telah mengubah wajah alam Kampung Setu. Sawah-sawah yang dulu terbentang luas kini menjadi kompleks permukiman, dan rawa-rawa yang menjadi sumber perikanan kini sebagian besar mengering atau tertimbun proyek pembangunan.
Transformasi ini berdampak pada perubahan ekonomi masyarakat. Dahulu, warga bergantung pada hasil tani dan perikanan. Kini, banyak yang beralih profesi menjadi pekerja di sektor jasa atau industri, sesuai tuntutan urbanisasi. Meski demikian, masih ada segelintir warga yang mempertahankan profesi tradisional mereka, meskipun lahan untuk bertani semakin berkurang.
Dampak Pembangunan dan Urbanisasi
Perubahan di Kampung Setu sangat erat kaitannya dengan proyek pembangunan yang diluncurkan pemerintah daerah serta pihak swasta. Pembangunan jalan dan akses transportasi yang lebih baik telah menarik banyak pendatang baru, mengubah Kampung Setu dari kawasan pedesaan menjadi bagian dari kota besar yang terus berkembang. Kompleks perumahan dan pusat perbelanjaan modern kini berdiri di bekas area pertanian, memberikan wajah baru pada daerah tersebut.
Pembangunan infrastruktur ini, di satu sisi, memberikan akses yang lebih mudah dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa perubahan ini mengancam identitas tradisional kampung. Banyak warga asli Kampung Setu merasa lahan mereka tergerus oleh proyek pembangunan, menimbulkan ketegangan antara penduduk lama dan pendatang baru. Konflik seputar penggunaan lahan menjadi salah satu isu yang sering dibicarakan, terutama karena banyaknya spekulasi tanah yang terjadi di wilayah tersebut.
Sebelum era pembangunan besar-besaran, kehidupan masyarakat Kampung Setu sangat bergantung pada hasil alam. Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani padi atau nelayan di rawa dan situ yang mengelilingi kampung. Aktivitas pertanian dan perikanan menjadi bagian integral dari ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Kebiasaan mencari ikan di danau dan rawa menjadi salah satu tradisi yang masih diingat oleh generasi tua, meskipun kegiatan tersebut kini semakin langka dilakukan.
Kampung Setu merupakan salah satu contoh bagaimana sebuah daerah dengan akar sejarah kuat mengalami transformasi signifikan akibat pembangunan dan urbanisasi. Nama Setu yang berasal dari situ atau danau kecil, kini tetap dikenang meskipun banyak perubahan terjadi. Masyarakat Kampung Setu terus beradaptasi, tetapi mereka juga tetap menjaga nilai-nilai tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi, dengan masjid sebagai pusat spiritual dan sosial. Transformasi Kampung Setu menjadi refleksi dinamika yang dialami banyak kampung tradisional di Indonesia di bawah tekanan modernisasi dan pembangunan.






