Ahli Seismologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pepen Supendi memperingatkan bahwa Jakarta berpotensi mengalami guncangan gempa kuat jika zona Megathrust di Selatan Jawa dan Sumatra melepaskan energi. Meskipun ibu kota berada cukup jauh dari sumber gempa, dampak signifikan tetap dapat terjadi. Potensi gempa dari zona Megathrust ini diperkirakan mencapai magnitudo hingga M8,9.
Peringatan ini disampaikan dalam sebuah jurnal berjudul “On the Potential for Megathrust Earthquakes and Tsunamis off the Southern Coast of West Java and Southeast Sumatra, Indonesia”. Menurut Pepen, penelitian tersebut menegaskan bahwa Jakarta tetap berpotensi mengalami guncangan gempa yang kuat.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
“Hal ini disebabkan oleh kondisi tanah Jakarta yang berupa endapan sedimen tebal, yang dapat memperkuat guncangan gempa,” kata Pepen saat berbincang dengan CNBC Indonesia pada Sabtu (3/1/2026). Ia menambahkan, dampak yang mungkin terjadi dari guncangan kuat gempa di Jakarta meliputi kerusakan bangunan yang tidak tahan gempa dan gangguan infrastruktur.
Pepen juga menjelaskan, “Meskipun Jakarta bukan wilayah yang berhadapan langsung dengan sumber gempa.” Namun, Mureks mencatat bahwa ancaman guncangan tetap menjadi perhatian utama.
Berbeda dengan ancaman guncangan, penelitian ini tidak menunjukkan adanya potensi tsunami besar yang menghantam Jakarta. Sumber gempa dan tsunami berada di selatan Pulau Jawa dan Sumatra, sementara Jakarta berada di pantai utara. Hal ini menyebabkan Jakarta terhalang oleh daratan Pulau Jawa.
Energi tsunami, kata Pepen, akan mengarah ke Samudera Hindia, bukan ke Teluk Jakarta. Oleh karena itu, wilayah pesisir Jakarta tidak termasuk dalam zona ancaman tsunami pada skenario ini. “Meskipun potensi tsunami di utara Jakarta tetap ada. Namun, ancaman utama bagi Jakarta tetap berasal dari guncangan gempa, bukan tsunami,” tegasnya.
Penelitian ini merupakan skenario ilmiah berbasis pemodelan dengan skenario terburuk, bukan prediksi waktu kejadiannya. Tujuan utama dari riset ini adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, bukan untuk menimbulkan kepanikan di masyarakat.





