Belajar dari Atraksi Panjat Pinang

RajaBackLink.com

*Oleh: Erwin Armeidi

MUREKS.CO.ID – PERINGATAN Hari Ulang Tahun Kemerdekaan (HUT) Republik Indonesia ke-77 tahun ini dengan Tema Pulih Lebih Cepat, Bangkit lebih kuat, terasa lebih berarti, dimana sejak Pademi Covid 19 melanda pada tahun 2000 yang lalu kita tidak bisa merayakan dengan penuh kesemarakan.

RajaBackLink.com

Alhamdulillah tahun ini Covid mulai melandai dan kita bisa merayakan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia dengan penuh kesemarakan seperti kondisi normal sebelum covid melanda. Paling tidak ada beberapa kegiatan yang biasanya kita temui di bulan Agustus setiap tahunnya, dua tahun belakangan tidak kita temui.

Salah satu diantaranya adalah lomba panjat pinang, sebuah atraksi yang selalu ada dan menarik untuk kita saksikan dan amati dalam perhelatan peringatan Kemerdekaan Bangsa ini.

Dari sumber detik edu dikatakan bahwa panjat pinang merupakan permainan yang ada sejak zaman penjajahan Hindia Belanda di Indonesia, panjat pinang sengaja diadakan oleh penjajah Belanda untuk memperingati Koninginnedag setiap tanggal 31 Agustus untuk menghormati kelahiran Ratu Belanda Wilhelmina Helena Pauline Marie Van Orange-Nassau, dalam Bahasa Belanda panjat pinang disebut dengan de Klimmast yang artinya memanjat tiang.

Sekitar tahun 1930-an panjat pinang kerap digelar orang-orang Belanda saat mereka mengadakan hajatan seperti pernikahan, kenaikan jabatan dan pesta ulang tahun. Bahan makanan seeperti beras, tepung, roti, keju gula dan pakaian menjadi barang yang diperebutkan, peserta panjat pinang terbagi dalam beberapa regu berlomba memanjat batang pinang setinggi 5-9 meter, Pinang tersebut sudah dilumuri minyak pelumas (oli atau gemuk ) dan yang menjadi peserta adalah kalangan pribumi.

BACA JUGA : Menangis di HUT Kemerdekan RI, Ida Dapat Hadiah

Sementara itu para meneer Belanda sebagai penonton hanya tertawa melihat orang pribumi yang berlomba berusaha mendapatkan hadiah. Terlepas dari sejarah nya panjat pinang mempunyai makna filosofis sendiri
Dalam perlombaan ini, sekelompok peserta akan berusaha memanjat secara bersama-sama batang pinang yang terlebih dahulu dilumuri pelumas (oli atau gemuk) demi menjangkau berbagaii hadiah yang digantung di puncaknya. Tak peduli siapa yang akan menjadi orang yang memulai perlombaan, dan siapa pun boleh berpartisipasi. Yang jelas, melalui panjat pinang ini, akan terbentuk semacam kerja sama yang solid antar peserta lomba dalam upaya mendapatkan hadiah, disertai dengan sorak-sorai penonton yang mendukung sambil menikmati menyaksikan pelombaan tersebut.

Terlepas dari mana asalnya dan kapan ia dilaksanakan, bila kita cermati secara saksama, banyak hal yang bisa kita pelajari dari atraksi panjat pinang tersebut. Panjat pinang, secara maknawi, akan tampak seperti upaya manusia yang berjuang untuk menggapai cita-cita dan keinginannya.

Cita-cita dan tujuan hidup merupakan target sasaran yang menjadi pelecut atas semua hal dan upaya yang dilakukan manusia. Dengan mempunyai cita-cita itu, mereka menjadi punya harapan untuk terus berusaha dan pantang menyerah dalam mencapai sasaran tersebut. Sesungguhnya, manusia yang paling malang di dunia ini bukanlah mereka yang tidak mempunyai uang (miskin), tetapi mereka yang tidak mempunyai tujuan hidup. Tentunya untuk mencapai apa yang kita cita-citakan tersebut, tidaklah mungkin bisa dilakukan sendiri, sehebat apa pun kita, pada akhirnya pasti akan membutuhkan (atau melibatkan) bantuan orang lain, karena manusia adalah mahluk sosial, yang tidak bisa hidup sendirian tanpa bergaul dan berinteraksi dengan orang lain.

BACA JUGA : Walikota Jadi Irup Peringatan HUT Kemerdekaan RI di Lubuklinggau

Dalam panjat pinang terdapat pembagian tugas yang jelas, ada yang bertugas sebagai pondasi (berdiri paling bawah) dan menyediakan pundaknya sebagai pijakan bagi peserta lain yang berusaha memanjat, ada yang tugasnya mengelap cairan pelicin yang menempel di batang pinang, dan ada yang bertugas untuk memanjat hingga mencapai puncak batang dan mengambil hadiah-hadiah yang disediakan.

Jika kita cermati lebih jauh, atraksi ini seolah menyajikan potret keseluruh tentang kerja sama dalam kelompok. Banyak di antara peserta yang tidak menyadari bahwa mungkin maksud hati ingin menolong rekan supaya sampai ke atas, namun yang terjadi justru membuatnya jatuh.

Disadari atau tidak, demikian pulalah yang terjadi dalam kehidupan ini, teman yang kita anggap sahabat justru malah menjatuhkan kita. Memang diperlukan upaya yang lurus dan niat yang tulus untuk menggapai cita-cita sehingga mampu memperoleh dukungan dari lingkungan sekitar.
Panjat pinang melukiskan dinamika dalam kehidupan manusia, bahwa kehidupan tidak selalu seimbang. Ada kalanya seseorang mencapai puncak karier dan memperoleh kekayaan yang ia inginkan, namun ada kalanya ia jatuh dan berada pada titik terendah dalam hidupnya. Ada orang yang sukses secara materiil namun gagal dalam mendidik anak. Ada pula yang memperoleh karier yang gemilang namun kering dalam kehidupan spritual. Jika kekayaan dan ketenaran tidak ada yang konstan, maka penderitaan dan kegagalan pun demikian, pada saatnya semua akan berakhir dan berganti dengan hal yang baru.

BACA JUGA : Insiden Merah Putih Tak Berkibar di Upacara HUT RI Pemkot Solo, Akibat Tali Putus

Oleh karena kehidupan ini merupakan sebuah proses perputaran, maka sudah seyogianyalah setiap orang bersikap untuk saling menghargai sesama. Selain itu, ukuran kualitas manusia di mata Sang Pencipta adalah ketaqwaannnya, bukan seberapa banyak hartanya, tinggi pangkat dan jabatannya, tinggi pendidikannya, atau berbagai embel-embel duniawi lainnya.

Setiap peserta perlombaan sadar diri atas kemampuan yang mereka miliki, yang bobot badannya cukup subur tentu tidak akan besikeras untuk berada di atas. Ia tentu lebih tepat berada di bawah dan menjadi tumpuan bagi peserta lain yang berat tubuhnya lebih ringan. Jika kita analogikan dalam kehidupan sehari-hari, maka sudah sepatutnya orang yang memiliki kemampuan dipersilakan dan didukung untuk mencapai puncak kariernya. Kita akan menghadapi berbagai masalah jika menggunakan faktor kedekatan dan ewuh pakewuh dalam memilih dan menempatkan sumber daya manusia.

Kembali ke analogi panjat pinang, baik peserta yang di atas maupun yang di bawah mempunyai peran masing-masing. Mereka yang di atas tidak mungkin bisa meraih cita-cita tanpa ada orang orang yang mendukungnya. Lagipula, dalam kehidupan ini, seseorang tidak selalu akan menuai apa yang telah mereka tabur, terkadang justru sebaliknya. Kita harus berbesar hati mengizinkan orang lain menuai apa yang kita rintis selama ini, Paling tidak keberhasilan seseorang untuk mecapai cita-citanya tersebut ada peran kita dalam mewujudkannya.

Sebagaimana panjat pinang mengajarkan, jarang sekali tim pemanjat pertama akan berhasil mencapi puncak dan mendapatkan hadiah karena batang pinang masih sangat licin di lumuri pelumas, tim pemanjat kedua justru menemui batang pinang yang sudah berkurang tingkat kelicinannya akibat dipanjat oleh tim yang pertama begitu pula tim selanjutnya sehingga peluang mereka untuk berhasil mencapai puncak pohon pinang akan lebih besar.

Oleh karena itu dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tidak boleh ada orang yang merasa bahwa dirinya lebih penting dari yang lain. Lebih dari itu, mari kita bangun kebersamaan, karena sebesar apa pun tugas yang kita pikul akan terasa lebih ringan jika kita lakukan bersama-sama dengan orang lain.
Mari kita bersatu, membentuk suatu ikatan yang kuat dan kokoh.

SELAMAT HUT RI KE 77
LINGGAU BISA
* ASN di Lingkungan Pemerintah Kota Lubuklinggau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *