Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan bahwa stok jagung nasional berada dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi serta pakan. Dengan demikian, pemerintah memastikan tidak akan ada kebijakan impor jagung sepanjang tahun 2026.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan, “Dengan kondisi stok dan produksi saat ini, pemerintah sepakat tidak perlu melakukan impor jagung pada 2026, baik untuk pakan, benih, maupun konsumsi rumah tangga.” Pernyataan ini disampaikan Ketut di Jakarta pada Selasa (6/1).
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Capaian Produksi dan Surplus Jagung 2025
Indonesia menutup tahun 2025 dengan capaian signifikan di sektor pangan, khususnya jagung. Berdasarkan pembaruan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Selasa (6/1), produksi jagung pipilan kering (JPK) dengan kadar air 14 persen sepanjang 2025 mencapai 16,11 juta ton.
Angka tersebut menunjukkan penguatan produksi dalam negeri yang signifikan. Sementara itu, konsumsi JPK 14 persen selama 2025 tercatat di kisaran 15,64 juta ton. Dengan produksi yang melampaui kebutuhan, terdapat surplus sekitar 0,47 juta ton.
Menurut Ketut, surplus produksi dan pengelolaan pasokan yang terjaga telah mendorong terbentuknya stok akhir tahun yang solid.
Stok Carry Over dan Swasembada
Proyeksi Neraca Pangan Nasional, yang disusun Bapanas bersama kementerian dan lembaga terkait, menunjukkan stok carry over dari tahun 2025 ke 2026 mencapai 4,5 juta ton. Jumlah ini dinilai cukup untuk memenuhi hampir tiga bulan kebutuhan nasional, mengingat kebutuhan bulanan jagung sekitar 1,4 juta ton.
Ketut menambahkan, stok carry over yang kuat ini menjadi indikator bahwa Indonesia pada tahun 2025 telah mencapai kondisi swasembada jagung. Sepanjang tahun tersebut, kebutuhan jagung pakan dapat terpenuhi tanpa ketergantungan impor, dengan produksi petani dalam negeri sebagai tulang punggung pasokan.
Kondisi ini sekaligus menjadi pijakan utama pemerintah dalam menetapkan kebijakan jagung untuk tahun 2026, termasuk keputusan penting untuk tidak melakukan impor jagung.
Proyeksi Produksi 2026 dan Peluang Ekspor
Pemerintah menilai pasokan dalam negeri sudah memadai untuk menjawab seluruh kebutuhan nasional. Ketut menjelaskan, produksi jagung nasional sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 18 juta ton.
Produksi yang meningkat ini akan menjadi penopang utama pemenuhan kebutuhan dalam negeri, sehingga keseimbangan pasokan diproyeksikan tetap terjaga sepanjang tahun. Dengan proyeksi tersebut, stok jagung di akhir 2026 diperkirakan tetap berada di kisaran 4,5 juta ton.
Mureks mencatat bahwa posisi stok yang aman ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasar domestik. Penguatan produksi dalam negeri juga membuka peluang ekspor.
Pada tahun 2026, ekspor jagung diperkirakan dapat mencapai sekitar 52,9 ribu ton. “Peluang ini hadir seiring meningkatnya kualitas dan kuantitas jagung nasional, tanpa mengganggu pemenuhan kebutuhan dalam negeri,” pungkas Ketut.






