Nasional

AS Umumkan Penangkapan Nicolas Maduro di Caracas, Soroti Jejak Politik Mantan Sopir Bus hingga Presiden

Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer berskala besar ke ibu kota Caracas, Venezuela, pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat. Operasi ini berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya oleh pasukan elit AS. Peristiwa dramatis ini segera meningkatkan eskalasi politik dan hukum antara Washington dan Caracas, sekaligus menyoroti kembali perjalanan politik Maduro yang penuh gejolak.

Jejak Politik dari Sopir Bus hingga Presiden

Nicolas Maduro Moros, lahir di Caracas pada 23 November 1962, tumbuh di lingkungan pekerja Kawasan El Valle. Ia tidak menuntaskan pendidikan tinggi setelah sekolah menengah, melainkan menghabiskan satu tahun di Kuba pada 1986 untuk pelatihan ideologis.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Setelah kembali ke Venezuela, Maduro bekerja sebagai sopir bus di sistem metro Caracas. Ia kemudian aktif dalam serikat pekerja pengemudi, mengikuti jejak ayahnya. Keterlibatannya yang vokal dalam isu-isu kelas pekerja membentuk citranya sebagai pemimpin rakyat kecil dan mengantarkannya memimpin serikat buruh.

Langkah politik Maduro dimulai melalui gerakan Revolusi Bolivarian yang dipimpin oleh Hugo Chávez pada akhir 1990-an. Chávez adalah figur sentral politik kiri di Venezuela. Pada tahun 2000, Maduro terpilih menjadi anggota Majelis Nasional, yang membawanya masuk ke lingkaran kekuasaan nasional.

Kedekatannya dengan Chávez, baik secara politik maupun ideologi, menjadikan Maduro salah satu loyalis utama rezim saat itu. Ia dipercaya sebagai Menteri Luar Negeri Venezuela dari tahun 2006 hingga 2013, menjadikannya sosok paling berpengaruh dalam diplomasi negara. Pada Oktober 2012, beberapa bulan sebelum wafat karena kanker, Chávez menunjuk Maduro sebagai Wakil Presiden.

Kepemimpinan di Tengah Krisis dan Tekanan Internasional

Setelah Chávez wafat pada Maret 2013, Maduro mengambil alih fungsi pemerintahan sementara. Ia kemudian memenangkan pemilihan umum yang sangat ketat, dengan selisih suara yang tipis. Menurut laporan AP News, perolehan suara Maduro hanya 50,62 persen. Sejak saat itulah Maduro resmi menjadi Presiden Venezuela yang diusung Partai Sosialis Bersatu.

Meskipun secara konstitusional sah, kemenangan tersebut langsung dipersoalkan oleh pihak oposisi. Maduro kerap dinilai tidak memiliki basis dukungan rakyat sekuat pendahulunya serta dianggap kurang memiliki karisma politik seperti Hugo Chávez.

Kepemimpinannya berlangsung di tengah situasi ekonomi yang memburuk drastis. Venezuela mengalami hiperinflasi ekstrem, kelangkaan bahan pangan dan obat-obatan, serta kemerosotan sektor minyak yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya sanksi Amerika Serikat dan tuduhan salah urus industri energi negara. Mureks mencatat bahwa runtuhnya kepercayaan publik juga mengakibatkan 7,7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya, sebagaimana dikutip dari AFP.

Tekanan ekonomi dan politik tersebut dipandang sebagian masyarakat internasional melemahkan legitimasi Maduro sebagai kepala negara. Gelombang protes domestik pun semakin banyak bergulir.

Tuduhan Narkoterorisme dan Penangkapan oleh AS

Hubungan Nicolas Maduro dan Donald Trump telah lama diwarnai ketegangan. Sejak tahun 2020, pada masa kepemimpinan pertama Trump, AS telah mendakwa Maduro atas dugaan narkoterorisme terkait perdagangan kokain besar-besaran serta kepemilikan senjata api dan alat penghancur di Venezuela. Maduro juga didakwa di Distrik Selatan New York dengan tudingan bekerja sama dengan kartel besar seperti Sinaloa dan Tren de Aragua.

Eskalasi ketegangan keduanya kembali terjadi pada November 2025 ketika Pemerintah AS menetapkan Cartel de los Soles sebagai organisasi teroris asing. Kartel tersebut dituding dijalankan langsung oleh Nicolas Maduro. Trump mengklaim Maduro telah melakukan kejahatan lintas negara yang merupakan ancaman langsung dari rezim Venezuela. Bagi Trump, operasi militer dan hukum terhadap Maduro telah dibuktikan dalam sistem peradilan AS, bukan spekulasi politik semata.

Terbaru, pada Sabtu dini hari (3/1), AS melancarkan serangan militer berskala besar ke Caracas, dengan menarget fasilitas militer Fuerte Tiuna. Trump kemudian mengumumkan bahwa Delta Force, pasukan elit AS, berhasil menangkap Nicolas Maduro dan istrinya, lalu menerbangkan mereka keluar dari Venezuela. Saat ini, Reuters melaporkan keduanya ditahan di New York dan menunggu untuk diadili. Penangkapan ini diklaim sebagai puncak tekanan berkepanjangan dari AS untuk melengserkan Maduro dari kekuasaan.

Mureks