Pemerintahan Venezuela kini berada dalam ketidakpastian setelah Amerika Serikat (AS) mengklaim telah menangkap Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1). Keberadaan Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores hingga kini belum diketahui, memicu spekulasi mengenai masa depan rezim di Caracas.
Momen ini dipandang krusial oleh pihak oposisi, baik di dalam maupun luar negeri, sebagai peluang untuk merebut kekuasaan. Mereka menegaskan bahwa politikus yang kini hidup di pengasingan, Edmundo González, adalah presiden Venezuela yang sah.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Tim Lister, seorang jurnalis senior CNN di bidang keamanan, menganalisis tiga skenario yang mungkin terjadi pasca-penangkapan Maduro oleh AS. Mureks mencatat bahwa analisis ini menjadi sorotan utama dalam memahami dinamika politik Venezuela ke depan.
1. Jalur Konstitusional
Berdasarkan konstitusi Venezuela, jika presiden berada dalam kondisi ‘ketiadaan mutlak’, kekuasaan akan dialihkan kepada Wakil Presiden Delcy Rodríguez. Sesuai aturan hukum, Delcy Rodríguez akan mengambil alih kekuasaan dan wajib menyelenggarakan pemilihan umum dalam kurun waktu 30 hari. Presiden terpilih kemudian akan menjabat penuh selama enam tahun.
2. Rezim Maduro Runtuh
Skenario kedua adalah runtuhnya rezim Maduro, di mana para pejabat senior mengundurkan diri atau melarikan diri. Dalam kondisi ini, kandidat potensial dari pihak oposisi adalah Edmundo González Urrutia. Ia merupakan seorang akademisi dan diplomat senior yang saat ini berada di pengasingan di Spanyol.
González didukung oleh peraih Hadiah Nobel Perdamaian terbaru, aktivis demokrasi María Corina Machado. Machado bahkan sesumbar bahwa gerakannya tengah menyiapkan transisi yang tertib dan damai setelah Maduro lengser. Pada Desember 2024 lalu, ia juga mengklaim ditawari posisi wakil presiden oleh González.
3. Pengambilalihan oleh Militer
Ketiadaan presiden juga membuka peluang bagi pemerintahan untuk dinakhodai oleh Menteri Pertahanan, yang saat ini dijabat oleh Vladimir Padrino López. Usai serangan AS, López dengan tegas menyatakan bahwa Venezuela akan melawan kehadiran pasukan asing di wilayahnya.
“Invasi ini merupakan penghinaan terbesar yang pernah dialami negara,” ujar López.
Pengumuman Mengejutkan dari Donald Trump
Presiden AS Donald Trump membuat pengumuman mengejutkan pada Sabtu (3/1) dengan menyatakan bahwa pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Menurut pernyataan Trump yang melansir New York Times pada tanggal yang sama, Maduro beserta istrinya dilaporkan sedang diterbangkan keluar dari wilayah Venezuela.
Pengumuman penangkapan ini menandai puncak dramatis dari tekanan berbulan-bulan yang dilancarkan pemerintahan Trump untuk menggulingkan Maduro dari kursi pemerintahan di Venezuela. Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan “serangan skala besar terhadap Venezuela”. Ia menekankan bahwa operasi militer ini dilakukan “bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS.”
“Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan sedang menerbangkannya keluar dari Venezuela,” tulis Trump dalam unggahannya.
Sebelum pengumuman Trump, militer AS telah melakukan serangan di Caracas dan beberapa bagian negara Venezuela lainnya. Serangan ini memicu ledakan hebat di pangkalan militer utama Fortuna di kota tersebut pada Sabtu (3/1) pagi waktu setempat. Saksi mata di Caracas sebelumnya juga melaporkan terlihat kepulan asap hitam pekat membumbung dari fasilitas militer Fortuna, disertai suara jet tempur yang terbang rendah.






