Manchester United resmi memecat Ruben Amorim dari kursi manajer pada Senin (5/1) pagi waktu setempat. Keputusan mengejutkan ini datang hanya sehari setelah Amorim melontarkan pernyataan keras dalam sesi jumpa pers usai laga kontra Leeds United, memicu spekulasi mengenai dinamika internal klub.
Pemecatan Amorim menambah panjang daftar manajer Premier League yang harus kehilangan pekerjaan bukan semata karena hasil di lapangan, melainkan akibat ketegangan komunikasi dengan manajemen klub. Amorim dinilai telah melampaui batas ketika menyuarakan kegelisahannya secara terbuka di hadapan publik.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Amorim dan Ledakan Emosi di Old Trafford
Menanggapi komentar Amorim, pengamat sepak bola Gary Neville menilai adanya perubahan sikap yang jelas dari sang manajer. Frustrasi terhadap hierarki klub, menurut Neville, mulai tumpah ke ruang publik. “Sesuatu telah terjadi di sana dalam seminggu terakhir dengan kutipan-kutipan yang muncul yang berarti bahwa Ruben Amorim sekarang mulai sedikit meluapkan emosinya,” kata Neville.
Neville membaca pernyataan Amorim bukan sebagai insiden tunggal, melainkan indikasi konflik internal yang tidak dijelaskan secara gamblang, namun terasa kuat dalam pilihan kata sang pelatih. Mureks mencatat bahwa pola komunikasi terbuka seperti ini seringkali menjadi alarm bagi manajemen klub.
Cermin Kasus Enzo Maresca di Chelsea
Situasi yang dialami Amorim ini memunculkan perbandingan kuat dengan kasus Enzo Maresca di Chelsea. Pelatih asal Italia itu juga dipecat tak lama setelah mengungkapkan kekecewaan secara frontal kepada publik. Neville melihat kemiripan jelas dengan apa yang dialami Maresca.
“Seperti yang dilakukan Maresca ketika dia berkata, ‘Saya mengalami 48 jam terburuk (di Chelsea)’,” ujar Neville, mengutip pernyataan Maresca. Baik Amorim maupun Maresca, menurut Neville, tidak mengungkap masalah secara eksplisit, namun publik dipaksa membaca di antara baris-baris pernyataan mereka.
“Tidak persis seperti itu, tetapi ada kemiripan dalam hal apa yang tidak dijelaskan secara eksplisit,” tegas Neville. “Semua orang harus membaca di antara baris-baris kalimat apa yang dia maksud, yang menurut saya seperti dia tidak senang dengan sesuatu dalam hierarki klub.”
Kesamaan proses pemecatan Amorim dan Maresca menjadi sorotan tajam. Keduanya sama-sama bicara keras di ruang publik, lalu tak lama kemudian harus angkat kaki dari klub besar Premier League, menandakan sensitivitas manajemen terhadap kritik terbuka.






