Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung kesiapan hunian sementara (huntara) di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, pada Kamis (1/1/2026). Peninjauan ini dilakukan setelah PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) berhasil merampungkan pembangunan huntara tersebut dalam waktu enam hari penuh, bekerja secara nonstop.
Pembangunan huntara ini merupakan respons cepat pemerintah untuk memastikan perlindungan, pemulihan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat yang terdampak bencana banjir di wilayah tersebut. Menurut Mureks, kecepatan pembangunan menjadi kunci dalam situasi darurat pascabencana.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Detail Pembangunan dan Kapasitas Hunian
Hunian sementara di Aceh Tamiang ini akan menempati tujuh blok dan dirancang untuk menampung 336 orang. Seluruh unit ditargetkan siap huni pada Januari 2026. Dalam prosesnya, Adhi Karya mengerahkan seluruh pekerja, peralatan, serta didukung oleh para engineer berpengalaman di lapangan.
Kesiapan huntara menjadi bagian dari kehadiran negara dalam merespons kebutuhan mendesak masyarakat pascabencana. Peninjauan Presiden Prabowo bertujuan memastikan hunian tersebut telah memenuhi aspek kelayakan sebelum digunakan oleh warga terdampak.
Kolaborasi Lintas Pihak dan Komitmen Adhi Karya
Pembangunan huntara merupakan inisiatif Danantara dalam mendukung pemulihan pascabencana, dilaksanakan secara terkoordinasi melalui kolaborasi lintas pihak, baik di tingkat pusat maupun daerah. Program ini dirancang agar masyarakat terdampak dapat kembali menata kehidupan secara aman dan nyaman, dengan fokus pada kualitas hunian serta keberlanjutan proses pemulihan.
Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk Moeharmein Zein Chaniago bersama Direktur Operasi I Alloysius Suko Widigdo secara aktif melakukan pengarahan langsung di lokasi pembangunan. Keduanya memastikan seluruh pekerjaan memenuhi standar mutu, keamanan, dan kenyamanan sebelum hunian digunakan oleh masyarakat.
Moeharmein Zein Chaniago menegaskan komitmen perseroan. “Dalam kondisi darurat, kecepatan menjadi hal yang sangat penting. Oleh karena itu, Adhi Karya menjalankan mandat negara dengan bekerja cepat, tepat, dan bertanggung jawab. Melalui pembangunan nonstop selama enam hari, Rumah Hunian Danantara Tahap I berhasil diselesaikan dan akan terus dikejar penyelesaiannya untuk tahap selanjutnya,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (1/1/2026).
Sistem Kerja dan Dampak Sosial
Percepatan pembangunan huntara dilaksanakan dengan sistem kerja 24 jam dalam tiga shift. ADHI juga menggunakan tenaga terampil sekaligus merekrut tenaga kerja lokal Aceh di sekitar lokasi proyek. Mureks mencatat bahwa skema ini diterapkan untuk menjaga ritme pembangunan sekaligus memberikan dampak sosial bagi masyarakat setempat.
Upaya tersebut menegaskan peran perseroan sebagai perpanjangan tangan negara yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian fisik bangunan, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan kemanusiaan. Pendekatan ini diharapkan dapat mendukung percepatan pemulihan serta keberlanjutan kehidupan masyarakat terdampak bencana.
Melalui kolaborasi antara Danantara, Adhi Karya, dan BUMN, huntara di Aceh Tamiang diharapkan menjadi tempat tinggal sementara yang aman dan layak bagi warga, sekaligus berfungsi sebagai jembatan menuju hunian permanen serta pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat secara bertahap.






