Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi bulanan pada Desember 2025 terjadi di seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi Aceh mencatat kenaikan inflasi tertinggi secara nasional, mencapai 3,60 persen secara month to month.
Menurut data BPS yang dirilis pada Senin (5/1/2026), tidak ada satu pun provinsi yang mengalami deflasi sepanjang Desember 2025. Inflasi terendah tercatat di Maluku Utara, dengan kenaikan sebesar 0,05 persen.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa lonjakan inflasi di berbagai daerah ini erat kaitannya dengan gangguan pasokan serta kenaikan harga pangan. “Sejumlah provinsi yang terdampak bencana hidrometeorologi seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami inflasi setelah sebelumnya mencatat deflasi pada November 2025,” ujar Pudji dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta.
Secara nasional, inflasi Desember 2025 tercatat 0,64 persen secara bulanan. Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami peningkatan dari 109,22 pada November 2025 menjadi 109,92. Inflasi tahunan sepanjang 2025 mencapai 2,92 persen secara year on year.
Kenaikan inflasi bulanan ini terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok tersebut mencatat inflasi sebesar 1,66 persen dengan andil 0,48 persen terhadap inflasi nasional.
Pudji merinci beberapa komoditas utama yang menjadi pendorong inflasi. Cabai rawit memberikan andil sebesar 0,17 persen, diikuti oleh daging ayam ras yang menyumbang 0,09 persen. Bawang merah berkontribusi 0,07 persen, ikan segar 0,04 persen, dan telur ayam ras 0,03 persen.
Selain komoditas pangan, beberapa item di luar pangan juga memicu kenaikan harga. Emas perhiasan memberikan andil 0,07 persen, bensin menyumbang 0,03 persen, dan tarif angkutan udara berkontribusi 0,02 persen. Namun, Mureks mencatat bahwa cabai merah justru memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.
Tinjauan berdasarkan komponen inflasi menunjukkan bahwa seluruh komponen mengalami kenaikan pada Desember 2025. Komponen harga bergejolak mencatat inflasi 2,74 persen dengan andil terbesar sebesar 0,45 persen, terutama dari cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.
Komponen inti mencatat inflasi 0,20 persen dengan andil 0,12 persen, dipicu oleh emas perhiasan dan minyak goreng. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mencatat inflasi 0,37 persen dengan andil 0,07 persen, dipengaruhi oleh harga bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota.
Sebagai pembanding, inflasi November 2025 tercatat 0,17 persen secara bulanan. Inflasi tahunan pada bulan tersebut berada di level 2,72 persen, dengan inflasi inti 2,36 persen.






