Keuangan

32.669 Wisman Pilih Kereta Api Saat Nataru 2025/2026: KAI Dukung Konektivitas dan Pemerataan Pembangunan

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat lonjakan signifikan pada jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang menggunakan layanan kereta api selama periode Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Sebanyak 32.669 wisman memilih moda transportasi rel ini dari 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, menegaskan peran strategis kereta api dalam mendukung agenda nasional.

Capaian ini, menurut catatan Mureks, tidak hanya menunjukkan peningkatan mobilitas, tetapi juga menggarisbawahi kontribusi kereta api dalam penguatan konektivitas, pemerataan pembangunan wilayah, serta percepatan pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata, sejalan dengan program Asta Cita pemerintah.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa pergerakan wisman melalui jaringan perkeretaapian nasional selaras dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan dari daerah. “Kereta api menjadi tulang punggung mobilitas wisatawan mancanegara karena langsung terhubung dengan pusat kota dan destinasi. Ini sejalan dengan Asta Cita dalam memperkuat konektivitas nasional, mendorong pemerataan pembangunan, dan menjadikan pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah,” ujar Anne.

Pergerakan Wisman Terkonsentrasi di Kota Strategis

Selama periode Nataru tersebut, pergerakan wisman terkonsentrasi di sejumlah kota strategis yang terhubung langsung dengan jaringan kereta api nasional. Data KAI menunjukkan 10 stasiun tujuan dengan volume wisman tertinggi, yaitu:

  • Gambir: 5.318 wisman
  • Yogyakarta: 4.848 wisman
  • Bandung: 2.660 wisman
  • Surabaya Gubeng: 2.001 wisman
  • Semarang Tawang: 1.562 wisman
  • Pasar Senen: 1.280 wisman
  • Malang: 964 wisman
  • Surabaya Pasar Turi: 914 wisman
  • Solo Balapan: 764 wisman
  • Purwokerto: 742 wisman

Kota-kota ini berperan sebagai simpul penting pariwisata dan ekonomi. Jakarta, misalnya, menguat sebagai pusat wisata sejarah, budaya, dan ekonomi. Yogyakarta menjadi poros wisata budaya nasional dengan akses mudah ke Candi Borobudur dan Prambanan. Sementara itu, Bandung terus berkembang sebagai pusat wisata alam dan ekonomi kreatif.

Surabaya berfungsi sebagai gerbang utama Jawa Timur yang menghubungkan ke kawasan wisata seperti Bromo dan Malang. Semarang menonjol dengan wisata heritage dan religinya, sedangkan Solo, Malang, dan Purwokerto memperkaya sebaran destinasi budaya dan alam di wilayah Jawa bagian tengah dan timur. Tidak hanya di Pulau Jawa, Sumatra juga mencatat pergerakan wisman signifikan melalui layanan kereta api, dengan Stasiun Medan (456 wisman), Rantau Prapat (227 wisman), dan Tebing Tinggi (218 wisman). Medan, khususnya, berfungsi sebagai pintu masuk strategis menuju Danau Toba, yang merupakan Destinasi Pariwisata Prioritas Nasional. Rantau Prapat dan Tebing Tinggi turut mendukung konektivitas wisata regional di Sumatra Utara.

Efek Berganda bagi Perekonomian Daerah

Pergerakan wisatawan mancanegara melalui kereta api ini, menurut Anne, memberikan efek berganda (multiplier effect) yang nyata bagi perekonomian daerah. Dampaknya terasa mulai dari sektor perhotelan, transportasi lanjutan, kuliner, kerajinan, hingga jasa wisata. Aktivitas ini secara langsung mendorong penguatan UMKM, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. “Ketika konektivitas antarkota diperkuat, maka sebaran wisatawan tidak terpusat di satu wilayah saja. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong pemerataan pembangunan, mengurangi kesenjangan antarwilayah, dan memperluas pusat-pusat pertumbuhan ekonomi,” jelas Anne.

Untuk memastikan pengalaman perjalanan yang konsisten dan berkualitas bagi wisatawan internasional, KAI terus menjaga keandalan operasional, ketepatan waktu, serta integrasi antarmoda. Langkah ini merupakan bagian dari dukungan terhadap agenda pemerintah dalam penguatan konektivitas nasional, pembangunan wilayah, serta peningkatan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global. “Ke depan, KAI akan terus berperan aktif sebagai bagian dari strategi nasional dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, merata, dan berkelanjutan melalui transportasi publik yang andal,” tutup Anne.

Mureks