Internasional

Xi Jinping: “Penyatuan Kembali Taiwan Tak Terhentikan”, Sinyal Kuat Ketegangan Baru di Asia

Presiden China Xi Jinping kembali menegaskan komitmennya terhadap penyatuan kembali Taiwan dengan daratan China dalam pesan Tahun Baru yang disampaikan pada Kamis, 1 Januari 2026. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional menyusul latihan militer intensif yang baru saja digelar Beijing di sekitar pulau tersebut.

“Penyatuan kembali tanah air kita, sebuah tren zaman, tidak bisa dihentikan,” kata Xi Jinping, seperti dikutip dari laporan media internasional pada Kamis (1/1/2026). Xi juga memaparkan visinya mengenai tatanan dunia baru, yang mencakup aneksasi Taiwan dan dukungan negara-negara lain untuk mengakui wilayah tersebut sebagai bagian dari kebijakan Satu China.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Dalam pidatonya, Xi Jinping turut menyoroti Hari Pengembalian Taiwan, sebuah peringatan berakhirnya kekuasaan Jepang di Taiwan pada tahun 1945. China menekankan perannya dalam mengalahkan Jepang pada konflik tersebut, memperkuat narasi historis atas klaimnya.

Latihan Militer Intensif di Selat Taiwan

Pernyataan Xi ini disampaikan tak lama setelah Beijing menyelesaikan serangkaian latihan militer berskala besar di sekitar Taiwan. Latihan yang berlangsung pada Senin dan Selasa, 29-30 Desember 2025, mencakup penembakan langsung di sekitar wilayah kepulauan, simulasi blokade pelabuhan utama, serta pengerahan angkatan laut, angkatan udara, pasukan roket, hingga penjaga pantai untuk mengepung pulau utama Taiwan.

Mureks mencatat bahwa dalam latihan tersebut, China mengerahkan sekitar 89 pesawat tempur. Latihan kali ini disebut-sebut dilakukan lebih dekat ke Taiwan dibandingkan dengan manuver-maneuver sebelumnya, menandakan peningkatan tekanan militer yang signifikan.

Respon Taiwan dan Dampak Regional

Pihak Taiwan telah menyuarakan keprihatinan atas latihan militer China tersebut. Kementerian Pertahanan Taiwan mengungkapkan adanya zona latihan tambahan selama dua jam di perairan timur pulau pada Senin pagi, yang dilakukan tanpa pengumuman terlebih dahulu dari China.

Latihan ini secara langsung mengganggu aktivitas sipil Taiwan. Kementerian Perhubungan setempat melaporkan bahwa lebih dari 10.000 penumpang penerbangan internasional berpotensi terdampak pada Selasa, dan sekitar 80 penerbangan domestik dibatalkan akibat manuver militer tersebut.

Dampak latihan ini tidak hanya terbatas pada gangguan operasional, tetapi juga menimbulkan tekanan militer yang lebih besar serta konsekuensi yang lebih kompleks bagi kawasan dan komunitas internasional.

China Merangkul Dunia dan Kemajuan Teknologi

Di sisi lain, Xi Jinping juga menyoroti upaya China untuk “merangkul dunia dengan tangan terbuka,” merujuk pada sejumlah konferensi multilateral yang diselenggarakan Beijing sepanjang tahun 2025. Salah satunya adalah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Shanghai pada Agustus lalu, di mana sejumlah pemimpin dunia seperti Vladimir Putin dari Rusia dan Recep Erdogan dari Turki berkumpul di Tianjing.

Pidato tersebut juga diselingi cuplikan parade militer China pada September 2025, yang digelar untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua. Selain itu, Xi memuji kemajuan teknologi China tahun ini, termasuk robot kickboxing dan misi luar angkasa Tianwen-2. Keberhasilan ekspor budaya China secara global, seperti game Black Myth: Wukong dan film animasi Ne Zha 2, juga turut dibanggakan.

Mureks