Miliarder sekaligus investor legendaris, Warren Buffett (95), secara resmi menyerahkan kendali perusahaan konglomeratnya, Berkshire Hathaway, kepada penerus pilihannya, Greg Abel, pada 31 Desember 2025. Penyerahan tongkat estafet ini menandai berakhirnya karier Buffett yang telah berlangsung selama beberapa dekade di Berkshire Hathaway, sebuah perjalanan yang diwarnai beragam pencapaian.
Selama masa kepemimpinannya, Buffett telah melakukan berbagai hal signifikan, mulai dari mengakuisisi perusahaan kereta api besar Amerika Serikat Burlington Northern hingga menjalin persahabatan erat dengan salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates. Ia juga dikenal sering memberikan komentar singkat yang penuh wawasan dalam surat tahunan kepada para pemegang saham.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Pelajaran dari Kesabaran Legendaris Buffett
Di tengah peralihan kepemimpinan Berkshire Hathaway dari Warren Buffett kepada Greg Abel, sejumlah pimpinan bisnis memberikan pandangan mereka mengenai pelajaran berharga yang ditinggalkan oleh Buffett. Salah satu tema yang paling menonjol di antara para CEO yang berbincang dengan CNN adalah kesabaran legendaris Buffett.
Buffett dikenal karena kebiasaannya menyimpan tumpukan uang tunai yang sangat besar di Berkshire, menunggu kesempatan yang tepat untuk berinvestasi. Ketika ia memutuskan untuk berinvestasi, ia melakukannya untuk jangka panjang. “periode kepemilikan favorit kami adalah selamanya,” tulisnya kepada para pemegang saham pada tahun 1989.
Investor, podcaster, pengusaha, dan mantan direktur komunikasi Gedung Putih, Anthony Scaramucci, menceritakan pengalamannya menulis surat kepada Buffett 30 tahun lalu, menyatakan bahwa ia membeli saham Berkshire untuk putrinya. “Dan karena putrinya baru berusia satu setengah tahun dengan harapan hidup 84 tahun, dia memiliki 82 setengah tahun lagi untuk memegang sahamnya,” kata Scaramucci. Ia menambahkan, “Dia membalas dengan sangat cepat dan mengatakan bahwa itu adalah manifestasi dari pandangan jangka pendek. Niatnya sendiri adalah untuk memegang saham tersebut selama seratus tahun.”
Disiplin dan Integritas sebagai Fondasi
Buffett, yang sering disebut sebagai “hiu” karena kemampuannya menghasilkan miliaran dolar AS, termasuk dari Goldman Sachs, dikenal sebagai hiu yang beretika. “Dari Warren Buffett, saya belajar bahwa keunggulan benar-benar adalah sebuah disiplin,” ujar CEO perusahaan manajemen kekayaan Hightower, Larry Restieri. Ia melanjutkan, “Tetapkan arah yang jelas, tetap setia pada prinsip Anda, dan laksanakan dengan sabar.”
Mureks mencatat bahwa, meskipun mengumpulkan kekayaan bersih sekitar USD 150 miliar atau setara Rp 2.501 triliun (asumsi kurs Rp 16.680 per dolar AS) menurut Bloomberg, Buffett selalu menekankan pentingnya kejujuran dan integritas. Ia mengharapkan standar yang sama dari setiap orang yang bekerja dengannya. “Jika perusahaan merugi, saya akan mengerti. Jika reputasi perusahaan sedikit saja tercoreng, saya akan tanpa ampun,” ia pernah bersaksi di hadapan Kongres.
Inspirasi Melampaui Kesuksesan Finansial
Meskipun terkenal dengan gaya hidup yang tidak meminta maaf atas kekayaannya—seperti kegemarannya terbang dengan pesawat pribadi dan mengendarai Cadillac—Buffett juga memutuskan untuk mewariskan sebagian besar kekayaannya yang sangat besar. Bersama Bill Gates dan Melinda French Gates, ia menciptakan Giving Pledge pada tahun 2010, sebuah inisiatif bagi orang-orang terkaya di dunia untuk berjanji “memberikan sebagian besar kekayaan mereka untuk tujuan amal selama hidup mereka atau melalui wasiat.”
CEO Real Capital Solutions, Marcel Arsenault, adalah salah satu penandatangan janji tersebut. “Warren menginspirasi saya untuk berpikir melampaui kesuksesan finansial,” ujarnya kepada CNN. Dalam surat yang menjelaskan komitmennya, Buffett menulis, “Terlalu sering, koleksi harta benda yang sangat banyak akhirnya menguasai pemiliknya.”
Namun, memberi tidak selalu harus tentang tumpukan uang tunai. Pada tahun 2025, Buffett menulis, “Ketika Anda membantu seseorang dalam ribuan cara, Anda membantu dunia.” Ia menambahkan, “Kebaiban tidak memerlukan biaya tetapi juga tak ternilai harganya.”






