Pemerintah Venezuela melayangkan kecaman keras terhadap serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) ke ibu kota Caracas serta sejumlah negara bagian lain pada Sabtu (3/1/2026) dini hari. Caracas, Miranda, Aragua, dan La Guaira menjadi sasaran agresi yang disebut Venezuela sebagai ancaman serius terhadap perdamaian dan stabilitas global, khususnya di kawasan Amerika Latin dan Karibia.
Serangan yang ditandai dengan setidaknya tujuh ledakan dan penerbangan pesawat rendah di atas Istana Kepresidenan Miraflores ini, mendorong Presiden Venezuela Nicolas Maduro untuk mengumumkan keadaan darurat nasional. Mureks mencatat bahwa insiden ini memicu kepanikan warga Caracas yang bergegas mengungsi, seperti terlihat dalam pantauan media.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Pelanggaran Piagam PBB dan Ancaman Kedaulatan
Dalam keterangan pers Kedutaan Besar Venezuela di Indonesia, Sabtu (3/1), pemerintah Venezuela menegaskan bahwa serangan AS merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB, khususnya Pasal 1 dan Pasal 2. Pasal-pasal tersebut menekankan penghormatan terhadap kedaulatan, kesetaraan hukum antarnegara, serta larangan penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional.
“Agresi tersebut mengancam perdamaian dan stabilitas internasional, khususnya di Amerika Latin dan Karibia, serta menempatkan nyawa jutaan orang dalam risiko serius,” demikian bunyi pernyataan resmi Kedutaan Besar Venezuela.
Pemerintah Venezuela juga menuding serangan AS bertujuan untuk merebut sumber daya strategis negara tersebut, terutama minyak dan mineral. Upaya ini dinilai sebagai langkah paksa untuk menghancurkan kemerdekaan politik Venezuela.
“Upaya itu tidak akan berhasil. Setelah lebih dari 200 tahun merdeka, rakyat dan pemerintah sah Venezuela tetap teguh mempertahankan kedaulatan serta hak yang tidak dapat dicabut untuk menentukan nasibnya sendiri,” ungkap pemerintah Venezuela, menegaskan komitmennya.
Mobilisasi Nasional dan Langkah Diplomatik
Menyikapi agresi ini, pemerintah Venezuela menyerukan seluruh kekuatan sosial dan politik untuk mengaktifkan rencana mobilisasi guna mengecam serangan AS. Rakyat Venezuela dan Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB) telah dikerahkan dalam “persatuan sempurna rakyat-militer-polisi” untuk menjamin kedaulatan dan perdamaian negara.
Secara paralel, “Diplomasi Perdamaian Bolivarian” akan mengambil langkah hukum dan diplomatik. Mereka berencana mengajukan pengaduan ke Dewan Keamanan PBB, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Komunitas Negara-negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC), serta Gerakan Non-Blok (GNB). Langkah ini bertujuan menuntut kecaman dan pertanggungjawaban dari pemerintah Amerika Serikat atas serangan tersebut.






