Pemerintah Venezuela melayangkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat (AS) menyusul serangkaian serangan militer yang menyasar sejumlah kota di negaranya, termasuk ibu kota Caracas, pada Sabtu, 3 Januari 2026. Insiden ini memicu ketegangan diplomatik dan kekhawatiran akan stabilitas regional.
Venezuela: Agresi Militer AS Langgar Piagam PBB
Dalam keterangan pers yang dirilis Kedutaan Besar Venezuela di Indonesia pada Sabtu (3/1), Republik Bolivarian Venezuela menyatakan penolakan dan pengutukan atas agresi militer tersebut. “Republik Bolivarian Venezuela menolak, mengecam, dan mengutuk di hadapan komunitas internasional agresi militer yang sangat serius yang dilakukan oleh pemerintahan Amerika Serikat saat ini terhadap wilayah dan penduduk Venezuela,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Serangan AS dilaporkan tidak hanya terjadi di Caracas, tetapi juga menyasar kota-kota di Negara Bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira. Menurut Pemerintah Venezuela, tindakan militer ini merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
“Tindakan ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya Pasal 1 dan 2, yang menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan, kesetaraan hukum antarnegara, serta larangan penggunaan kekuatan,” tegas pihak Kedutaan Besar Venezuela.
Lebih lanjut, Venezuela memperingatkan dampak dari agresi ini. “Agresi tersebut mengancam perdamaian dan stabilitas internasional, khususnya di Amerika Latin dan Karibia, serta menempatkan nyawa jutaan orang dalam risiko serius,” tambah pernyataan itu.
Latar Belakang Ketegangan AS-Venezuela
Militer AS sebelumnya telah mengakui keterlibatannya dalam ledakan yang menargetkan Caracas. Namun, baik Pentagon maupun Gedung Putih hingga saat ini masih belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut.
Hubungan antara AS dan Venezuela memang telah memanas dalam beberapa waktu terakhir. Ketegangan ini dipicu oleh tuduhan Presiden AS Donald Trump yang menuding kapal-kapal Venezuela memasuki wilayah AS untuk mengedarkan narkoba. Mureks mencatat bahwa tuduhan ini menjadi salah satu pemicu utama operasi militer AS yang menargetkan kapal-kapal yang diduga membawa narkoba ke AS, di mana setidaknya 107 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
Selain itu, Presiden Trump juga menuduh Presiden Venezuela Nicolás Maduro memimpin kartel narkoba. Tuduhan ini dibantah keras oleh Maduro, yang menyatakan bahwa Trump melancarkan tuduhan tersebut sebagai upaya untuk melengserkannya dari jabatannya.






