MAKASSAR – Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) menyelenggarakan Darul Arqam Muhammadiyah Angkatan II sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat ideologi, kepemimpinan, dan komitmen bermuhammadiyah di lingkungan kampus. Kegiatan ini berlangsung selama tiga malam empat hari, mulai Sabtu, 3 Januari hingga 6 Januari 2026, dan dipusatkan di Balai Sidang Unismuh Makassar.
Darul Arqam Angkatan II diikuti oleh 75 peserta, yang terdiri dari kepala subdirektorat, ketua divisi, serta unsur lembaga, badan, dan biro di Unismuh Makassar. Untuk memastikan kualitas pembinaan, Unismuh menghadirkan instruktur nasional langsung dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pembukaan acara dilakukan oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan dan dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas serta Badan Pembina Harian (BPH).
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Penguatan Ideologi dan Kepemimpinan Pimpinan Unismuh
Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Dr. KH. Mawardi Pewangi, M.Pd.I., menjelaskan bahwa Darul Arqam Muhammadiyah Angkatan II merupakan ikhtiar institusional untuk memperluas jangkauan pengkaderan hingga seluruh sivitas akademika. Menurut Mawardi, program ini tidak hanya berhenti pada pimpinan, tetapi akan berlanjut kepada dosen dan tenaga kependidikan.
“Kami memohon izin agar Unismuh Makassar dapat melaksanakan Darul Arqam untuk seluruh sivitas akademika, sehingga penguatan ideologi Muhammadiyah dapat merata,” ujar Mawardi, seperti yang dicatat oleh tim redaksi Mureks.
Mawardi menambahkan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari angkatan pertama yang telah diikuti oleh unsur rektorat, BPH, dekan, dan pimpinan lembaga. Peserta angkatan kedua ini berasal dari unsur pimpinan yang belum mengikuti gelombang sebelumnya. Unismuh Makassar menargetkan pelaksanaan Darul Arqam hingga sembilan angkatan sebagai bentuk keseriusan dalam pengkaderan.
Makna Historis dan Ideologis Darul Arqam
Ketua BPH Unismuh Makassar, Prof. Dr. Gagaring Pagalung, M.Si., Ak., C.A., menegaskan bahwa Darul Arqam memiliki makna historis sekaligus ideologis dalam tradisi perkaderan Muhammadiyah. Ia menjelaskan, istilah Darul Arqam merujuk pada Rumah Arqam pada masa Rasulullah SAW yang menjadi pusat pembinaan dan penguatan umat.
“Spirit Darul Arqam adalah penguatan ideologi, kemandirian, dan keteladanan Rasulullah dalam membangun peradaban,” kata Gagaring.
Ia menambahkan, Muhammadiyah berkemajuan ditandai oleh pemikiran dan mental yang terus berkembang, kehidupan masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan, serta mental Muhammadiyah yang kokoh. Dalam konteks itu, Darul Arqam dinilai penting untuk menguatkan orientasi nilai para pengambil kebijakan, mulai dari tingkat program studi hingga rektorat.
Unismuh Makassar Jadi Model bagi PTMA Lain
Wakil Ketua I Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MPKSDI PP Muhammadiyah), Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., menyampaikan bahwa Darul Arqam merupakan bentuk pembinaan utama bagi warga persyarikatan. Oleh karena itu, penguatan ideologi perlu dilakukan secara berkelanjutan, termasuk di perguruan tinggi Muhammadiyah.
“Pengkaderan adalah kunci untuk menjaga kesinambungan dan kemajuan persyarikatan,” ujar Mutohharun.
Mutohharun juga menyinggung Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang bertumpu pada sistem. Ia mengutip pandangan antropolog Jepang Prof. Mitsuo Nakamura yang menilai Muhammadiyah berkontribusi besar dalam memperkenalkan dakwah Islam berbasis organisasi di Indonesia. Menurutnya, Darul Arqam menjadi sarana untuk menyatukan visi dan arah gerak organisasi.
Dari unsur Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan PP Muhammadiyah (Diktilitbang), Nurhadi K. Sutrisno, Ph.D., mengapresiasi konsistensi Unismuh Makassar dalam menyelenggarakan Darul Arqam. Ia menyebut pelaksanaan Darul Arqam menjadi salah satu target capaian kinerja PP Muhammadiyah bagi perguruan tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah.
“Inisiatif Unismuh Makassar ini patut diapresiasi dan dapat menjadi contoh bagi PTMA lainnya,” kata Nurhadi.
Sementara itu, Ketua PWM Sulawesi Selatan, Prof. Dr. KH. Ambo Asse, M.Ag., berharap Darul Arqam Muhammadiyah Angkatan II dapat menjadi model pengkaderan bagi perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. Ia menekankan pentingnya membangun kader dengan keimanan yang kuat, kompetensi keilmuan, sosial, manajerial, serta kemampuan teknologi.
“Pengkaderan ini adalah upaya memperkuat kualitas keislaman dan kemuhammadiyahan para pimpinan,” ujarnya.
Pada akhir pembukaan, pimpinan universitas menyerahkan daftar nama peserta Darul Arqam Muhammadiyah Angkatan II kepada Master of Training untuk diproses sesuai ketentuan MPKSDI PP Muhammadiyah. Kegiatan ini diharapkan melahirkan kader dan pimpinan Muhammadiyah yang berintegritas, berwawasan keilmuan, serta mampu menggerakkan amal usaha secara berkelanjutan di lingkungan Unismuh Makassar.






