Otomotif

Transisi Elektrifikasi: Empat Model Mobil Bensin Murni Resmi Diskontinu di Indonesia 2025

Tren elektrifikasi yang semakin masif di sektor otomotif Indonesia sepanjang 2025 memaksa sejumlah pabrikan untuk merasionalisasi portofolio produknya. Tercatat, empat model mobil bermesin bensin murni resmi dihentikan penjualannya dari pasar domestik.

Keputusan ini, menurut Mureks, bukan semata karena produk-produk tersebut gagal di pasaran. Melainkan lebih disebabkan oleh arah industri yang mulai bergeser ke elektrifikasi, efisiensi melalui teknologi hybrid dan PHEV, serta penataan ulang lini produksi.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Beberapa nama yang sebelumnya familier bagi konsumen di Indonesia, kini harus rela pamit dari etalase penjualan. Masing-masing model memiliki cerita, segmen, dan kontribusi berbeda terhadap perjalanan mereknya di Tanah Air. Berikut adalah empat mobil bensin yang harus diskontinu pada 2025.

Suzuki Baleno: Hatchback yang Kehilangan Momentum

Suzuki Baleno, sebuah hatchback yang dikenal menawarkan keseimbangan kenyamanan, efisiensi, dan harga terjangkau, kini harus pamit dari etalase penjualan. Model ini, yang menjadi cerminan konsumen urban, kehilangan momentum seiring menyusutnya pasar hatchback non-LCGC.

Konsumen kini lebih banyak beralih ke SUV kompak 5-seater atau kendaraan elektrifikasi ringan. Di tengah tekanan ini, Suzuki memilih menghentikan Baleno mesin bensin murni. Namun, mereka menyodorkan SUV kompak bernama Fronx sebagai pengganti, yang berbagi platform dan rasa berkendara serupa.

Baleno ditenagai mesin K15B empat silinder 1,5 liter injeksi, menghasilkan 104,6 PS pada 6.000 rpm dan torsi puncak 138 Nm pada 4.400 rpm. Penyaluran tenaga melalui transmisi otomatis konvensional 4-percepatan, yang tetap responsif dan efisien.

Fitur-fitur seperti auto climate control, konektivitas Android Auto dan Apple CarPlay, remote keyless entry, push-button start/stop, cruise control, serta head up display (HUD) dan head unit 9 inci touchscreen tetap menjadi andalan untuk mobilitas harian.

Chery Tiggo 5X: Korban Penataan Ulang Strategi

Chery Tiggo 5X, SUV kompak yang belum lama mencicipi pasar Indonesia, juga harus mengakhiri perjalanannya pada 2025. Model ini hadir untuk mengakomodasi konsumen yang menginginkan desain modern dan fitur melimpah dengan harga kompetitif.

Namun, dinamika portofolio yang cepat membuat Chery melakukan penataan ulang produk, menyederhanakan lini agar tidak tumpang tindih. Posisinya kini digantikan oleh Tiggo Cross Sport 1.5 Turbo dan Tiggo Cross Hybrid yang menawarkan teknologi lebih maju dan desain kontemporer dengan irisan harga jual yang tidak jauh berbeda.

Jantung pacu Tiggo 5X berkapasitas 1.500 cc Naturally Aspirated (NA) dengan transmisi CVT, menghasilkan tenaga maksimal 113 PS dan dorongan momen puntir tertinggi 138 Nm. Kolaborasi ini menjanjikan performa optimal dan efisiensi bahan bakar yang baik.

Sebagai standar, SUV kompak ini sudah dilengkapi dengan 6 airbag, kamera 360 derajat, dan layar sentuh 10,25 inci. Peranti keselamatan lain berupa ABS, EBD, Brake Assistance System, Brake Override System, ESP, Traction Control, Hill Start Assist Control, Hill Descent Control, Tyre Pressure Monitoring System, dan Auto Central Locking Door. Di kasta tertinggi, turut diberikan ADAS.

Toyota Veloz Bensin: Transisi ke Kendaraan Hybrid

Nama Veloz telah lama menjadi tulang punggung segmen LMPV keluarga. Selama bertahun-tahun, versi bensin murni menjadi penopang penjualannya. Namun, 2025 menandai titik balik bagi varian ini.

Toyota kini mengarahkan konsumen ke opsi yang lebih efisien dan berorientasi masa depan dengan menggantinya menggunakan varian strong hybrid. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Toyota untuk memperkuat citra efisiensi dan teknologi ramah lingkungan, sejalan dengan roadmap elektrifikasi mereka di Indonesia.

Pemacu tenaga Veloz non-hybrid berkode 2NR-VE 1.5 liter empat silinder, menyuplai daya 106 PS pada 6.000 rpm dan torsi 137 Nm pada 4.200 rpm. Tenaga ditingkatkan lantaran mobil menggunakan sistem transmisi baru yakni D-CVT ke roda depan.

Trim teratas, Veloz Q CVT TSS, dilengkapi fitur komprehensif Toyota Safety Sense. Isinya berupa Pre Collision System, Front Departure Alert, Lane Departure Assist, Pedal Misoperation Control, Rear Crossing Traffic Alert, dan Blind Spot Monitoring.

Honda HR-V Turbo: Performa yang Terlalu Spesifik

Ketika generasi terbaru Honda HR-V diluncurkan, varian 1.5 turbo turut disediakan sebagai opsi paling bertenaga. Mesin turbo ini bertenaga, responsif, dan menyasar konsumen yang menginginkan sensasi berkendara lebih sporty dalam kemasan SUV kompak. Namun, pasar berkata lain.

Mayoritas konsumen HR-V lebih mengutamakan efisiensi dan kenyamanan harian ketimbang performa tinggi. Akibatnya, varian turbo yang bersifat niche ini akhirnya dihentikan. Keputusan Honda menunjukkan bahwa di era efisiensi dan elektrifikasi, performa tinggi tanpa dukungan teknologi ramah lingkungan mulai kehilangan relevansi massal.

Sebagai gantinya, Honda kemudian menyodorkan trim HR-V e:HEV sebagai opsi. Varian Honda HR-V RS Turbo mengusung mesin 1.5L VTEC yang menghasilkan 177 PS pada 6.000 rpm dan torsi maksimum 240 Nm sejak 1.700-4.500 rpm. Untuk semakin menambah sensasi berkendara, terdapat tiga pilihan berkendara yaitu Sport, Normal, dan Econ. Penyaluran tenaga sama, ke roda depan via CVT.

Fitur Honda Sensing juga tertanam. Di dalamnya tersedia Collision Mitigation Braking System (CMBS), Lane Keeping Assist System (LKAS), Road Departure Mitigation System (RDM), Adaptive Cruise Control (ACC) dengan Low Speed Follow, Auto-High Beam, dan Lead Car Departure Notification System (LCDN).

Inferensi

Diskontinuitas mobil bermesin bensin murni sepanjang 2025 ini bukanlah tanda kemunduran. Melainkan menjadi cerminan kedewasaan pasar dan perubahan tren. Konsumen semakin selektif, dan pabrikan kian pragmatis. Mesin konvensional masih ada, namun tak lagi menjadi pusat strategi.

Suzuki Baleno, Chery Tiggo 5X, Toyota Veloz bensin, dan Honda HR-V Turbo telah menunaikan perannya masing-masing. Mereka menjadi saksi fase transisi industri otomotif Indonesia dari dominasi bensin murni menuju era elektrifikasi yang lebih efisien dan berorientasi masa depan.

Mureks