Otomotif

Toyota Indonesia Waspadai Dampak Krisis Venezuela terhadap Ekspor Mobil dan Rantai Pasok Global

Krisis yang melanda Venezuela berpotensi besar mengganggu kelangsungan ekspor kendaraan buatan Indonesia, khususnya mobil-mobil lansiran Toyota. Negara di Amerika Selatan ini merupakan salah satu tujuan penting bagi distribusi mobil produksi dalam negeri, sehingga gejolak di sana memicu kekhawatiran di kalangan industri otomotif.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, menyatakan pihaknya terus memantau situasi terkini dan berupaya menjalin komunikasi dengan otoritas Venezuela. “Sejak zaman Trump jadi presiden sudah banyak gonjang-ganjing, sekarang lebih gonjang-gonjang terutama Venezuela. Tetapi kita sudah komunikasi dengan Venezuela kalau semuanya oke,” ungkap Nandi saat ditemui di Bandung belum lama ini.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Nandi menyoroti bahwa krisis geopolitik di Venezuela dapat mendorong negara-negara lain untuk mengambil keputusan defensif, seperti menetapkan tarif baru untuk produk atau komoditas tertentu. Kebijakan ini, menurutnya, akan berdampak luas, termasuk pada Indonesia.

Ancaman Tarif dan Perjanjian Dagang

“Jadi isu sebenarnya nanti tarif-tarif itu, semua negara akan punya tarif yang mana itu bukan hanya kita yang kena. Misalnya China bisa saja terdampak kalau tidak punya trade agreement, makanya kita upayakan itu beberapa tahun lalu,” jelas Nandi. Ia menambahkan, Indonesia telah memiliki perjanjian dagang dengan Peru sebagai contoh upaya mitigasi.

Untuk Venezuela, pemerintah Indonesia disebut telah melakukan koordinasi lintas kementerian guna mempercepat tercapainya perjanjian dagang bilateral. “Beberapa kali sudah ada diskusi, tetapi so far belum ada kelanjutannya. Kita akan dorong terus untuk trade agreement dengan bilateral. Jadi saat ini tidak masalah karena Indonesia posisinya surplus,” terang Nandi.

Dampak pada Logistik dan Rantai Pasok Global

Wakil Presiden Direktur PT TMMIN, Bob Azam, menambahkan bahwa masalah geopolitik di Venezuela juga memiliki kaitan erat dengan aspek logistik. Gejolak semacam ini biasanya memicu kenaikan biaya logistik secara signifikan. “Geopolitik itu berhubungan juga dengan logistik, biasanya kalau ada gonjang-gonjing biaya logistik akan naik. Seperti misalnya krisis di Timur Tengah, banyak arus logistik sampai memutar ke semenanjung Arab sehingga biaya menjadi dua kali lipat,” paparnya.

Selain itu, Bob juga mengingatkan tentang ancaman terhadap rantai pasok. Industri otomotif yang sangat bergantung pada pasokan dari berbagai negara akan sangat rentan jika salah satu mata rantainya terganggu. “Semua saling bergantung. Contoh baterai itu materialnya bisa dari berbagai negara, materi pentingnya bisa berasal dari China, ada juga dari Ukraina, negara-negara ASEAN hingga Amerika Selatan,” jelas Bob.

Menurutnya, Indonesia perlu mewaspadai potensi gangguan arus barang buatan dalam negeri yang dapat menyebabkan permasalahan rantai pasok. Hal ini mengingat banyak negara saat ini menjalankan hubungan multilateral. “Sebenarnya industri kita ini tidak didesain untuk perdagangan yang sifatnya hanya mengandalkan bilateral. Tetapi sekarang dunia seperti terbelah, sehingga akan berpengaruh pada logistik dan supply chain,” ucap Bob.

Ekspor Toyota ke Venezuela

Berdasarkan catatan Mureks, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa hanya Toyota yang mengirimkan dua model kendaraannya ke Venezuela. Model tersebut adalah Yaris Cross dan Wigo (atau Agya untuk pasar domestik).

ModelJumlah Unit (Januari-November 2025)
Yaris Cross tipe G (non-hibrida)1.008
Wigo5.971

Laporan distribusi sepanjang tahun 2025, dari Januari hingga November, menunjukkan bahwa Toyota berhasil menyalurkan 1.008 unit Yaris Cross tipe G (versi non-hibrida) dan 5.971 unit Wigo ke Venezuela.

Mureks