Tren

Tompi: “Menertawakan Kondisi Fisik Bukan Kritik Cerdas,” Bela Gibran dari Sindiran Pandji

Penyanyi sekaligus dokter spesialis bedah plastik, Tompi, melontarkan kritik tajam terhadap komika Pandji Pragiwaksono terkait sindiran mengenai penampilan fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pernyataan Tompi ini muncul setelah materi stand-up comedy Pandji yang berjudul “Mens Rea” tayang di platform Netflix, memicu perdebatan publik.

Dalam pertunjukan tunggalnya, Pandji Pragiwaksono sempat mengulas fenomena pilihan publik terhadap pemimpin yang seringkali dipengaruhi oleh penampilan fisik. Dari pembahasan tersebut, Pandji kemudian menyinggung sosok Gibran dengan guyonan yang mengarah pada kondisi wajah.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

“Gibran ngantuk ya. Salah nada, maaf. Gibran, ngantuk ya?” ujar Pandji Pragiwaksono dalam materi komedinya.

Ucapan tersebut segera mendapat sorotan dari dr. Tompi. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Senin, 5 Januari 2026, Tompi menyatakan keberatan terhadap materi komedi yang dinilainya tidak mengarah pada kritik substansial. Menurut Tompi, sindiran tersebut tidak menyasar kinerja maupun kebijakan Gibran sebagai Wakil Presiden, melainkan menitikberatkan pada aspek fisik.

“Menertawakan kondisi fisik seseorang, apa pun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas,” tegas Tompi.

Ia melanjutkan dengan penjelasan medis mengenai kondisi mata yang kerap disalahartikan sebagai mengantuk. “Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai Ptosis atau suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon,” jelasnya.

Lebih lanjut, Tompi menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah adalah hal yang sah dalam ruang demokrasi. Namun, ia menekankan pentingnya membedakan antara kritik terhadap kebijakan dengan candaan yang merendahkan kondisi tubuh seseorang.

“Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah. Namun, merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kualitas diskusi publik agar lebih berfokus pada substansi. “Mari naikkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya. Karena martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline,” tambah Tompi.

Mureks mencatat bahwa meski memberikan kritik keras, Tompi tetap mengapresiasi karya Pandji secara keseluruhan. Ia mengaku telah menonton “Mens Rea” dan menilai materi yang disajikan tetap memiliki kualitas.

Mureks