Film fiksi ilmiah epik The Wandering Earth II (2023) kembali membawa penonton ke masa depan yang suram, di mana umat manusia berada di ambang kepunahan. Dengan durasi 173 menit, film ini mengisahkan perjuangan global untuk menyelamatkan Bumi dari ancaman Matahari yang terus mengembang dan diprediksi akan menelan planet ini dalam seratus tahun ke depan.
Dalam upaya putus asa menyelamatkan peradaban, United Earth Government (UEG) meluncurkan dua proyek ambisius: Moving Mountain Project dan Lunar Exile Project. Moving Mountain Project bertujuan membangun 10.000 Earth Engine raksasa untuk mendorong Bumi keluar dari Tata Surya, sementara Lunar Exile Project dirancang untuk menjauhkan Bulan agar tidak mengganggu jalur evakuasi Bumi.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Narasi film ini berpusat pada beberapa karakter kunci, termasuk Tu Hengyu sebagai insinyur komputer proyek Lunar Exile, serta Liu Peiqiang (diperankan oleh Jing Wu) yang merupakan calon astronot. Ia bersama rekannya, Han Duoduo, dan putra mereka, Liu Qi, menjadi bagian dari kisah perjuangan ini.
Mureks mencatat bahwa film ini juga memperkenalkan konflik ideologis besar melalui Digital Life Project (DLP). Gagasan radikal ini mengusulkan pengunggahan kesadaran manusia ke dalam bentuk digital demi mencapai keabadian. Namun, proyek ini dihentikan oleh UEG, sebuah keputusan yang memicu perlawanan sengit dari para pendukungnya.
Pada tahun 2044, krisis besar meletus ketika pendukung DLP melancarkan serangan teror dan siber yang menghancurkan elevator luar angkasa UEG di Libreville. Serangan ini tidak hanya meluluhlantakkan elevator dan pangkalan UEG, tetapi juga Ark Space Station yang menjadi penopang Lunar Exile Project. Dampak fatal dari insiden ini membuat banyak negara menarik dukungan dari proyek penyelamatan Bumi, dan kembali mempertimbangkan konsep kehidupan digital sebagai alternatif.
Di tengah kekacauan, Tu Hengyu menghadapi dilema pribadi di Bulan. Ia menerima komputer kuantum 550C untuk uji coba mesin lunar, namun perangkat tersebut rusak akibat badai matahari mendadak. Dalam keputusasaan sekaligus harapan, Tu menawarkan komputer lamanya, 550A, yang menyimpan sampel kesadaran dua menit mendiang putrinya, Yaya. Baginya, kontribusi ini bukan sekadar demi proyek, melainkan juga impian untuk memberi Yaya kesempatan menjalani hidup yang utuh, meski dalam bentuk digital.
Setelah serangkaian uji coba yang intens, Earth Engine dan Lunar Engine akhirnya berhasil dioperasikan. Optimisme global kembali bangkit, dan proyek penyelamatan ini resmi berganti nama menjadi Wandering Earth Project. Di tengah momen kebahagiaan, Liu Peiqiang menikahi Han Duoduo, dan mereka dikaruniai seorang putra, Liu Qi.
Namun, krisis personal kembali menghantam keluarga Peiqiang. Hanya Peiqiang dan Liu Qi yang mendapatkan tempat di kota bawah tanah yang aman. Demi menyelamatkan Duoduo yang menderita kanker akibat radiasi Matahari, Peiqiang melamar kerja di stasiun luar angkasa Navigator ISS, berharap bisa mendapatkan satu tempat lagi untuk istrinya.
Disutradarai oleh Frant Gwo dan ditulis oleh tim termasuk Cixin Liu, The Wandering Earth II berhasil menyajikan kisah epik tentang pengorbanan, harapan, dan perjuangan tak kenal lelah umat manusia menghadapi takdir.






