Tren

Tayang Perdana ‘The Pitt’ Musim Kedua: Tetap Adiktif dan Brutal, Siap Raih Emmy Lagi?

Tidak mengejutkan jika The Pitt musim kedua menjadi salah satu serial yang paling dinantikan di tahun 2026. Setelah final musim pertama, serial ini dinobatkan sebagai acara terbaik tahun 2025 dan mempertahankan posisinya dalam peringkat akhir tahun. Bahkan, salah satu episodenya, “2:00 P.M.”, disebut sebagai episode televisi terbaik tahun 2025 yang mampu membuat penonton meneteskan air mata. Mureks mencatat bahwa ekspektasi terhadap serial ini memang sangat tinggi.

Dengan predikat pemenang Emmy untuk Serial Drama Terbaik, tekanan besar menyelimuti musim kedua. Pertanyaan besarnya adalah, mampukah The Pitt mempertahankan kualitasnya ataukah musim pertama hanya kebetulan semata?

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Kabar baiknya, setelah menyaksikan episode perdana musim kedua, serial ini terbukti tetap adiktif dan luar biasa, bahkan dengan sentuhan brutal yang khas. Ada beberapa ‘kerutan’ baru musim ini, dan secara nada, episode ini terasa lebih ringan dari drama medis yang seringkali menghancurkan hati di musim sebelumnya. Namun, jika diperhatikan seksama, benih-benih kehancuran di masa depan sudah mulai ditanam dalam beberapa alur cerita. Menurut Mureks, perubahan nada ini bisa menjadi strategi menarik.

Keseimbangan Alur Cerita yang Memukau

Salah satu hal paling mengesankan dari musim pertama The Pitt adalah alur ceritanya yang berjalan secara real time: 15 episode, masing-masing mencakup satu jam dari shift 12 jam di unit gawat darurat fiksi Pittsburgh Trauma Medical Center, ditambah beberapa jam bonus saat Dr. “Robby” Robinavitch (Noah Wyle) dan timnya menangani insiden korban massal. Yang tak kalah mengesankan adalah bagaimana serial ini berhasil membangun karakter dan alur cerita hanya dalam 15 jam waktu nyata, serta menjaga semua alur cerita tetap saling terhubung dan disampaikan pada momen yang paling berdampak.

Setelah menyaksikan episode perdana musim kedua, tampaknya kemampuan ini akan kembali menjadi kekuatan utama serial. Sudah ada beberapa alur cerita yang berpotensi menghadirkan momen-momen menyedihkan. Ada seorang anak, Kylie (Annabelle Toomey), yang datang dengan luka dan memar yang diyakini Dr. Santos (Isa Briones) berasal dari kekerasan. Di musim pertama, kita tahu bahwa Santos adalah korban kekerasan, sehingga jelas bahwa, benar atau salah instingnya, ia sangat terpicu oleh pasien ini.

Ada juga Evelyn Bostick (Jayne Taini), yang muncul di akhir episode. Ia menderita Alzheimer dan tinggal di panti jompo bersama suaminya, Ethan, yang kita saksikan meninggal di awal episode. Kombinasi kehilangan ingatan dan kehilangan pasangan hidup terasa seperti akan menjadi kisah yang menghancurkan, mengingatkan pada penampilan Samantha Sloyan sebagai Lily Bradley di musim pertama, yang harus menerima kenyataan bahwa putranya mengalami mati otak akibat overdosis narkoba.

Wajah Baru dan Pergeseran Nada

Tentu saja, meskipun The Pitt musim kedua terasa familiar, ada beberapa ‘kerutan’ baru dan wajah-wajah baru. Yang utama adalah Dr. Baran Al-Hashimi (Sepideh Moafi), mantan dokter di Rumah Sakit VA yang datang menggantikan Robby selama cuti tiga bulannya. Musim ini mencakup hari pertamanya – dan hari terakhir Dr. Robby – dan jelas pada titik tertentu mereka akan berselisih mengenai pendekatan mereka terhadap pengobatan darurat.

Ada juga beberapa mahasiswa baru di The Pitt. James (Lucas Iverson) dan Joy (Irene Choi), mahasiswa kedokteran tahun keempat dan ketiga. Namun, mereka terasa familiar dengan mahasiswa kedokteran musim lalu, terutama James, yang sangat mirip dengan karakter Santos.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, episode ini sedikit lebih ringan dibandingkan banyak episode dari musim pertama. Pada satu titik, kami menyaksikan lelucon hampir setiap menit. Namun, di balik itu, kami juga mendapatkan realisme brutal khas serial ini, saat kami menyaksikan Dr. Robby dan beberapa dokter lain membuka rongga dada seorang pria dan menghidupkan kembali jantungnya sementara darah menggenang di lantai.

Jadi, jika Anda menyukai The Pitt musim pertama, selamat. Musim kedua tampaknya menawarkan kombinasi hebat dari kekuatan-kekuatan utama – alur cerita yang terjalin, eksposisi yang dieksekusi dengan baik, dan peristiwa medis yang sangat realistis – yang membuat musim pertama begitu menyegarkan. Sekarang, kita hanya perlu berharap 14 jam berikutnya tidak mengendur, dan serial ini mempertahankan sifat adiktifnya. Saya sudah tidak sabar untuk menonton episode berikutnya.

Mureks