Keuangan

Tauhid Ahmad: “Terlalu Tinggi Kalau 5,7%,” Proyeksi Ekonomi RI Q4 2025 Diragukan Ekonom

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 menjadi sorotan, menyusul klaim optimistis dari pemerintah yang dibantah oleh sejumlah ekonom. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat menembus angka 5,7%, namun pandangan tersebut dinilai terlalu tinggi oleh para ahli ekonomi.

Data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) yang dicatat Mureks menunjukkan, ekonomi Indonesia pada triwulan III 2025 tumbuh 5,04% (year on year/yoy). Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, saat kegiatan CFD di Jakarta Pusat pada Minggu (16/11/2025), menyatakan keyakinannya bahwa kebijakan pemerintah mampu mendorong aktivitas ekonomi di akhir tahun.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

“Saya kira di triwulan keempat bisa tumbuh di atas 5,5%, mungkin 5,6-5,7%,” ujar Purbaya.

Ekonom Ragukan Target 5,7%

Namun, proyeksi Purbaya tersebut menuai keraguan dari Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad. Menurut Tauhid, target pertumbuhan 5,7% pada kuartal IV 2025 terlalu optimistis dan sulit tercapai.

“Tidak sampai, terlalu tinggi kalau 5,7%,” kata Tauhid kepada detikcom pada Selasa (6/1/2026).

Meski demikian, Tauhid memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 tetap akan lebih tinggi dibanding kuartal III 2025, dan berada di atas 5%. Kenaikan ini, jelasnya, terutama didorong oleh momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang meningkatkan konsumsi masyarakat, khususnya di sektor transportasi, akomodasi, dan jasa.

“Nataru mendorong mobilitas masyarakat. Konsumsi, akomodasi, dan transportasi biasanya meningkat dibanding kuartal ketiga,” ujarnya.

Selain itu, penyerapan belanja pemerintah yang melonjak pada kuartal IV juga menjadi penopang. “Di kuartal III penyerapan belanja baru sekitar 60%. Di kuartal IV bisa naik hingga 95-96%. Belanja pemerintah dan realisasi pembayaran program meningkat signifikan,” jelas Tauhid.

Ia menambahkan, berbagai insentif dan bantuan sosial yang digelontorkan pemerintah pada akhir tahun turut mendukung konsumsi, meskipun dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dinilai terbatas.

Dampak Bencana Alam di Sumatera

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Tauhid memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tumbuh di kisaran 5-5,2%. Namun, proyeksi ini belum sepenuhnya memasukkan dampak bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada Desember 2025.

“Perkiraannya di kisaran 5% sampai 5,2%,” ujarnya. “Ada tiga provinsi terdampak bencana. Dampaknya muncul di Desember dan perhitungannya biasanya baru terlihat pada kuartal I 2026, tetapi pasti memberi tekanan terhadap rata-rata nasional,” imbuhnya.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal. Ia menilai target pertumbuhan 5,7% pada kuartal IV 2025 sulit tercapai, terutama setelah terjadi bencana di Sumatera.

“Perhitungan kami di November menunjukkan kuartal IV bisa 5,2%. Namun setelah itu terjadi bencana di Sumatera,” kata Faisal.

Faisal menyebut, bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berdampak langsung pada produksi dan konsumsi di 52 kabupaten. Ketiga provinsi tersebut menyumbang sekitar 5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Kontribusinya cukup besar, sehingga gangguan ekonomi di wilayah itu berpengaruh ke pertumbuhan nasional,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 berada di kisaran 5,1-5,15%, lebih rendah dari proyeksi awalnya. Menurutnya, dampak bencana juga berpotensi berlanjut hingga tahun 2026.

“Dampaknya memang hanya satu bulan di 2025, tapi cukup menekan kuartal IV. Dari 5,2% bisa turun ke sekitar 5,1% atau 5,15%,” tegas Faisal.

Mureks