JAKARTA – Saham-saham emiten energi bersih terbarukan (EBT) di Bursa Efek Indonesia mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (8/1/2026). Penurunan ini terjadi sehari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pencabutan keanggotaan AS dari 66 organisasi global, termasuk yang bergerak di sektor energi bersih.
Langkah kontroversial AS tersebut sontak memicu kekhawatiran pasar global mengenai keberlanjutan arus investasi di sektor energi hijau. Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa kebijakan AS ini mengubah persepsi risiko investor terhadap prospek pendanaan energi bersih secara global.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Kekhawatiran Investor Global
“Jadi risk off, koreksi kemarin karena re-rating valuasi. Selama ini saham EBT dihargai premium karena bumbu ESG dan arus dana hijau global. Dengan cabutnya AS, investor khawatir tren green boom global akan melambat drastis,” ujar Wafi kepada Bisnis, Jumat (9/1/2026).
Menurut catatan Mureks, pada tahun 2025, saham-saham EBT sempat menikmati penguatan berkat sentimen positif domestik. Di antaranya adalah kehadiran Danantara yang menerbitkan Patriot Bond untuk mendukung pendanaan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), serta dukungan pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 yang diteken Presiden Prabowo Subianto.
Namun, Wafi menegaskan bahwa sentimen positif dari dalam negeri memiliki dampak yang relatif terbatas jika dibandingkan dengan pengaruh kebijakan negara-negara besar seperti AS terhadap persepsi investor global.
“Sentimen Danantara memang kuat di 2025 sebagai penopang pendanaan domestik. Tapi sektor EBT itu capital intensive dan sangat bergantung pada standar atau arah kebijakan global. Jadi euforia lokal kalah oleh ketakutan kalau skema pendanaan hijau global bakal mandek atau bubar,” tambahnya.
Dampak pada Biaya Pendanaan
Berkurangnya komitmen global ini berpotensi meningkatkan biaya pendanaan bagi emiten EBT. Kondisi ini dapat berdampak langsung pada fundamental keuangan perusahaan, mengingat karakteristik industri EBT yang membutuhkan investasi jangka panjang dengan biaya yang sangat besar.
“Emiten EBT butuh pinjaman bunga rendah atau green financing untuk ekspansi. Kalau AS cabut, lembaga keuangan global mungkin akan lebih ketat atau menaikkan bunga pinjaman untuk proyek hijau karena risiko politik naik,” tandas Wafi.
Pergerakan Saham Emiten EBT
Pada penutupan pasar Kamis (8/1/2026), beberapa saham emiten EBT tercatat mengalami penurunan:
- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) turun 1,67%.
- PT Maharaksa Biru Energi Tbk. (OASA), yang memiliki portofolio proyek PSEL, tergerus 9,71%.
- PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA), yang tengah bertransformasi dari energi fosil ke energi bersih, merosot 10,42%.
- PT Barito Renewable Energy Tbk. (BREN), dengan portofolio pembangkit listrik panas bumi dan energi angin, turun 0,52%.
Meski demikian, pada perdagangan Jumat (9/1/2026), sebagian besar emiten energi bersih ini kembali ke zona hijau. PGEO naik 1,27%, OASA menguat 2,15%, dan TOBA naik 1,16%. Namun, BREN masih tercatat turun 0,79%.






