Teknologi

Survei Kaspersky Ungkap 31% Pengguna Indonesia Curhat ke AI Saat Merasa Sedih

Penelitian terbaru dari Kaspersky menyoroti pergeseran signifikan dalam pola penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) di Indonesia. AI, yang sebelumnya dikenal sebagai asisten belanja atau perencanaan, kini bertransformasi menjadi pendamping digital multifaset yang mampu memberikan dukungan emosional, sebuah fenomena yang sangat menonjol di kalangan Generasi Z dan milenial.

Survei yang dilakukan oleh pusat riset pasar Kaspersky pada November 2025 ini menunjukkan bahwa secara global, 29% pengguna AI mempertimbangkan untuk berbicara dengan AI ketika mereka merasa tidak bahagia selama liburan. Angka ini bahkan lebih tinggi di Indonesia, mencapai 31% responden. Catatan Mureks menunjukkan, generasi muda berusia 18-34 tahun menunjukkan minat terbesar pada dukungan berbasis AI dengan 35% memilih opsi ini, jauh di atas 19% responden berusia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan hal serupa saat kesal.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Popularitas AI dan Beragam Pemanfaatannya

Popularitas AI secara keseluruhan pada musim liburan 2025/2026 cukup tinggi, dengan 74% peserta survei global berencana untuk mengintegrasikan AI ke dalam aktivitas mereka. Selain sebagai sumber dukungan emosional, pengguna AI juga memanfaatkan alat ini untuk berbagai keperluan lain, seperti:

  • Mencari resep (56%)
  • Menemukan restoran dan akomodasi (54%)
  • Bertukar pikiran tentang ide hadiah atau dekorasi (50%)
  • Sebagai asisten belanja (50%)

Ancaman Keamanan Data di Balik Ketergantungan AI

Meskipun AI menawarkan berbagai kemudahan, para ahli Kaspersky memperingatkan bahwa ketergantungan yang berlebihan pada teknologi ini dapat mengancam keamanan data pribadi. Penting untuk diingat bahwa sebagian besar chatbot dikelola oleh perusahaan komersial yang memiliki kebijakan pengumpulan dan pemrosesan data mereka sendiri.

Untuk meningkatkan privasi data, pengguna disarankan untuk selalu meninjau kebijakan privasi alat AI yang digunakan. Selain itu, hindari berbagi informasi yang sangat pribadi atau keuangan, serta prioritaskan penggunaan layanan AI dari perusahaan terkemuka yang memiliki rekam jejak privasi dan keamanan yang kuat.

Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, menekankan, “pentingnya merangkul saran AI dengan sikap skeptis yang sehat dan mencoba menghindari berbagi informasi secara berlebihan, mengingat model bahasa belajar dari data yang bersumber dari Internet dan rentan mengulang kesalahan serta bias.”

Mureks