Teknologi

Satya Nadella: “AI Bukan Sekadar Konten Tak Bermutu, Tapi Sepeda untuk Pikiran Manusia”

CEO Microsoft Satya Nadella menyerukan kepada publik dan industri teknologi untuk mengubah cara pandang terhadap kecerdasan buatan (AI). Nadella menegaskan bahwa AI bukanlah sekadar “slop”—istilah yang merujuk pada konten berkualitas rendah yang dihasilkan AI—melainkan sebuah alat yang mampu mendukung dan memperkuat produktivitas manusia.

Pernyataan tersebut disampaikan Nadella melalui blog pribadinya pada Selasa (6/1/2026), tidak lama setelah kamus Merriam-Webster menetapkan kata “slop” sebagai word of the year. Dalam konteks teknologi, “AI slop” digunakan untuk menggambarkan konten yang diproduksi AI secara massal dan cepat, namun seringkali minim kualitas, seperti tulisan dangkal, gambar asal-asalan, atau video repetitif yang marak di media sosial.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

AI sebagai “Bicycles for the Mind”

Nadella mengajak masyarakat untuk memaknai AI sebagai “bicycles for the mind”, sebuah metafora yang berarti alat yang memperkuat kemampuan berpikir manusia, bukan menggantikannya. “Ada konsep baru yang mengembangkan gagasan ‘bicycles for the mind’ sehingga kita selalu memandang AI sebagai penopang potensi manusia, bukan sebagai pengganti,” tulis Nadella, dikutip dari laman TechCrunch.

Ia juga menekankan pentingnya keluar dari perdebatan antara konten murahan versus kecanggihan teknologi. Sebaliknya, Nadella mendorong pembangunan keseimbangan baru dalam memahami hubungan manusia dengan alat penguat kognitif berbasis AI.

Dampak AI terhadap Ketenagakerjaan: Kekhawatiran dan Realitas

Pandangan Nadella muncul di tengah kekhawatiran luas mengenai potensi AI menggantikan banyak pekerjaan manusia. Sejumlah pelaku industri bahkan memasarkan teknologi AI sebagai pengganti tenaga kerja untuk menegaskan nilai ekonominya.

CEO Anthropic Dario Amodei, misalnya, memperingatkan bahwa AI berpotensi menghilangkan hingga setengah dari pekerjaan kerah putih level pemula dalam lima tahun ke depan, yang dapat mendorong tingkat pengangguran ke kisaran 10% hingga 20%.

Namun, dampak nyata AI terhadap ketenagakerjaan masih menunjukkan gambaran yang beragam. Riset Project Iceberg dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) memperkirakan AI saat ini mampu menangani sekitar 11,7% dari total pekerjaan berbayar manusia.

Angka tersebut, menurut Mureks, bukan berarti AI menggantikan hampir 12% pekerjaan secara keseluruhan, melainkan menunjukkan porsi tugas dalam suatu pekerjaan yang bisa dialihkan ke AI, seperti administrasi keperawatan atau penulisan kode komputer.

Beberapa profesi memang mengalami tekanan signifikan, antara lain desainer grafis korporasi, penulis konten pemasaran, serta lulusan baru programmer tingkat junior. Namun, pekerja dengan keahlian tinggi di bidang seni, penulisan, dan pemrograman justru dinilai mampu menghasilkan kinerja yang lebih baik dengan bantuan AI.

Laporan proyeksi ekonomi Vanguard 2026 mencatat sekitar 100 jenis pekerjaan yang paling terpapar otomatisasi AI justru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja dan kenaikan upah riil yang lebih tinggi dibandingkan sektor lain. Vanguard menyimpulkan bahwa pekerja yang mampu memanfaatkan AI secara efektif cenderung menjadi lebih bernilai.

Gelombang PHK dan Pergeseran Strategi Bisnis

Di sisi lain, Microsoft sendiri mencatat pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih dari 15.000 karyawan sepanjang 2025, meskipun perusahaan membukukan pendapatan dan laba tertinggi. Dalam memo internalnya, Nadella menyebut transformasi AI sebagai salah satu fokus utama perusahaan di era baru.

Menurut laporan firma Challenger, Gray & Christmas yang dikutip CNBC, AI disebut berkontribusi terhadap hampir 55.000 PHK di Amerika Serikat sepanjang 2025. PHK ini terjadi di berbagai perusahaan teknologi besar, termasuk Amazon, Salesforce, dan Microsoft.

Meski demikian, berbagai laporan menilai gelombang PHK tersebut lebih dipengaruhi oleh pergeseran strategi bisnis dan alokasi investasi, bukan semata-mata efisiensi kerja akibat penggunaan AI. Sementara itu, penggunaan AI untuk hiburan tetap berkembang pesat. Konten meme, gambar, dan video pendek berbasis AI yang kerap disebut sebagai “AI slop” masih menjadi salah satu bentuk pemanfaatan AI yang paling banyak dikonsumsi publik.

Mureks