LAS VEGAS, Mureks – Samsung Electronics mengisyaratkan potensi kenaikan harga produknya dalam waktu dekat. Hal ini dipicu oleh kelangkaan pasokan memori akses acak (RAM) global yang kian parah, terutama akibat tingginya permintaan dari pusat data kecerdasan buatan (AI).
Peringatan tersebut disampaikan oleh Wonjin Lee, Global Marketing Leader Samsung, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg pada Selasa (6/1/2026) di sela-sela pameran teknologi CES 2026 di Las Vegas, Amerika Serikat.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Lee secara gamblang menyatakan bahwa situasi ini akan berdampak luas. “Akan ada masalah seputar pasokan semikonduktor, dan itu akan memengaruhi semua orang,” ujar Lee.
Ia menambahkan, harga komponen sudah mulai merangkak naik. “Harga naik bahkan saat kita berbicara. Jelas, kami tidak ingin membebankan beban itu kepada konsumen, tetapi kami akan berada pada titik di mana kami harus benar-benar mempertimbangkan penyesuaian harga produk kami,” tegasnya.
Pernyataan ini menandai perubahan sikap Samsung. Sebelumnya, pada awal Desember, perusahaan hanya menyatakan memantau pasar tanpa berkomentar mengenai harga.
Kelangkaan RAM Dipicu Permintaan AI
Kelangkaan RAM global ini merupakan imbas dari masifnya konsumsi memori bandwidth tinggi (HBM) oleh pusat data AI. Para produsen memori, termasuk Samsung, telah menggeser prioritas produksi mereka untuk memenuhi permintaan HBM yang melonjak.
Pergeseran ini menciptakan efek domino, bahkan memengaruhi pasokan RAM bandwidth rendah yang digunakan di berbagai perangkat, termasuk otomotif.
Sanchit Vir Gogia, CEO Greyhound Research, menjelaskan kepada NPR pada akhir Desember bahwa beban kerja AI sangat bergantung pada memori. “Beban kerja AI dibangun di sekitar memori,” kata Gogia.
Menurut Gogia, AI telah mengubah sifat permintaan itu sendiri. “Sistem pelatihan dan inferensi membutuhkan jejak memori yang besar dan persisten, bandwidth ekstrem, serta kedekatan yang erat dengan komputasi. Anda tidak dapat mengurangi ini tanpa merusak kinerja,” jelasnya.
Dampak “Demam AI” bagi Konsumen
Fenomena ini muncul lebih dari tiga tahun setelah peluncuran ChatGPT yang memicu demam AI global. Sejak saat itu, banyak perusahaan menggembar-gemborkan chatbot dan alat AI generatif lainnya sebagai teknologi yang akan membawa kemudahan dan otomatisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, belum jelas apakah gelembung AI akan pecah, meskipun beberapa peramal keuangan telah menyuarakan kekhawatiran. Mureks mencatat bahwa hingga saat ini, dampak kenaikan harga komponen akibat AI justru lebih banyak membebani konsumen dan pekerja.
Referensi penulisan: www.engadget.com






