JAKARTA – Raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung, mengumumkan potensi kenaikan harga perangkat elektronik, termasuk ponsel pintar, menyusul meningkatnya biaya komponen, terutama memori. Situasi ini diperkirakan akan berdampak luas pada pasar global.
Samsung Hadapi Situasi Harga Berat
Co-CEO Divisi Mobile Samsung, TM Roh, dalam wawancara di ajang Consumer Electronics Show (CES) 2026, Jumat (9/1), mengungkapkan bahwa perusahaan sedang menghadapi “situasi harga yang sangat berat”. Ia menambahkan, “penyesuaian harga ponsel bisa menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.”
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Menurut pantauan Mureks, kenaikan biaya komponen ini tidak hanya memengaruhi ponsel, tetapi juga televisi dan berbagai perangkat pintar lainnya. Samsung saat ini tengah berupaya bekerja sama dengan berbagai mitra dalam rantai pasoknya untuk mencari solusi jangka panjang.
Pertimbangan Penyesuaian Harga dan Persaingan Pasar
Kepala Pemasaran Global Samsung, Wonjin Lee, dalam wawancaranya dengan Bloomberg, mengonfirmasi bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan untuk melakukan penyesuaian ulang harga. Langkah ini diambil agar harga produk tetap sesuai dengan kondisi ekonomi terbaru.
Meskipun divisi semikonduktor Samsung sempat menjadi produsen chip terbesar di dunia pada tahun 2024, posisi teratas untuk segmen memori pada tahun 2025 direbut oleh pesaingnya, SK Hynix. Divisi ponsel Samsung sendiri dilaporkan masih kesulitan memperoleh chip memori dengan harga yang kompetitif.
Peluncuran seri Galaxy S26 yang akan datang menjadi momen krusial bagi Samsung. Terlebih, Apple berhasil menyalip Samsung sebagai produsen ponsel terbesar di dunia, didorong oleh penjualan iPhone 17 yang kuat. Dalam menghadapi persaingan ketat ini, Samsung dikabarkan mempertimbangkan untuk menahan harga Galaxy S26 di negara-negara tertentu guna menjaga daya saing.
Fokus Samsung pada Pengembangan AI
Selain tantangan harga, Samsung juga menyoroti perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan survei internal perusahaan, tingkat kesadaran merek AI di kalangan pengguna Galaxy melonjak signifikan, dari 30 persen menjadi 80 persen dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Mureks mencatat bahwa Samsung menargetkan pengiriman sekitar 400 juta perangkat berbasis AI sepanjang tahun 2026. Angka ini mencakup ponsel pintar, televisi, dan peralatan rumah tangga, yang akan menggandakan jumlah total perangkat Galaxy AI yang beredar di pasar global.






