KYIV – Ibu kota Ukraina, Kyiv, dan wilayah pinggirannya diguncang rentetan serangan rudal Rusia pada Jumat (9/1) pagi, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai belasan lainnya. Eskalasi ini terjadi tak lama setelah Moskow secara tegas menolak proposal perdamaian pasca-perang yang baru saja disusun dalam pertemuan puncak di Paris.
Korban Jiwa dan Kerusakan di Kyiv
Walikota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi dampak serangan tersebut. “Tiga tewas dan 13 luka-luka,” ujarnya, merujuk pada korban akibat serangan yang memicu kebakaran dan merusak gedung-gedung apartemen. Klitschko juga menambahkan bahwa seorang petugas medis tewas saat merespons serangan drone di sebuah gedung perumahan yang terkena serangan kedua kalinya, meskipun belum jelas apakah petugas medis tersebut termasuk dalam jumlah korban sementara yang disebutkan.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Gubernur regional Mykola Kalashnyk mendesak warga untuk tetap berada di dalam tempat perlindungan sampai sirene serangan udara berhenti berbunyi, menunjukkan tingkat ancaman yang tinggi. Angkatan udara Ukraina sendiri telah mengeluarkan peringatan rudal di seluruh negeri, mengonfirmasi bahwa pesawat pengebom Rusia telah terbang dan menyatakan, “seluruh Ukraina berada di bawah ancaman rudal.”
Ancaman Rudal Balistik di Lviv
Di kota Lviv, Ukraina barat, angkatan bersenjata melaporkan bahwa sebuah rudal balistik menghantam “fasilitas infrastruktur” sesaat sebelum tengah malam. Wali Kota Lviv, Andriy Sadovy, menyatakan bahwa “militer Ukraina berhak menentukan apakah rudal Oreshnik yang mampu membawa hulu ledak nuklir telah digunakan.” Setelah serangan itu, administrasi militer regional memastikan bahwa tingkat radiasi di wilayah tersebut berada dalam kisaran normal.
Penolakan Moskow atas Rencana Damai
Serangan terbaru ini mengikuti peringatan yang dikeluarkan Kedutaan Besar AS di Kyiv pada Kamis (8/1), yang menyebutkan bahwa “serangan udara yang berpotensi signifikan” dapat terjadi kapan saja dalam beberapa hari ke depan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga telah mengulangi peringatan langka tersebut dalam pidatonya malam itu.
Mureks mencatat bahwa eskalasi ini terjadi setelah Moskow pada Kamis (8/1) menyebut Kyiv dan sekutunya sebagai “poros perang” dan menolak proposal pasca-perang terbaru. Rencana yang disusun pada pertemuan puncak di Paris tersebut mencakup mekanisme pemantauan yang dipimpin AS dan pasukan multinasional Eropa yang akan dikerahkan setelah pertempuran berhenti. Namun, Rusia menyebut jaminan keamanan yang diusulkan sebagai “militeristik” dan memperingatkan bahwa pasukan penjaga perdamaian Barat mana pun yang dikirim ke Ukraina akan menjadi sasaran tembakan Rusia.






