Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 9 Januari 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terkoreksi 0,13 persen, mencapai level Rp16.819 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS yang naik 0,08 persen ke level 99,01.
Kinerja rupiah yang loyo hari ini sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Sejumlah mata uang utama seperti yen Jepang melemah 0,39 persen, dolar Hong Kong turun 0,04 persen, dan dolar Singapura terkoreksi 0,14 persen. Pelemahan serupa juga dialami dolar Taiwan (0,10 persen), won Korea (0,47 persen), peso Filipina (0,11 persen), rupee India (0,20 persen), dan ringgit Malaysia (0,27 persen).
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Di tengah tren pelemahan tersebut, hanya yuan China dan baht Thailand yang berhasil menguat, masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,25 persen.
Sentimen Global dan Domestik Membayangi Rupiah
Mureks merangkum, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari luar maupun dalam negeri, seperti dijelaskan oleh Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi. Dari sisi eksternal, data ekonomi AS menunjukkan adanya perbaikan aktivitas bisnis, sementara pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam juga memperlihatkan tanda-tanda yang lebih baik dari perkiraan.
Selain itu, rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengendalikan industri minyak Venezuela selama bertahun-tahun, dengan menargetkan harga minyak US$50 per barel, turut menjadi perhatian pasar.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan peningkatan posisi cadangan devisa Indonesia. Pada akhir Desember 2025, cadangan devisa tercatat sebesar US$156,5 miliar, naik signifikan dibandingkan posisi akhir November 2025 yang sebesar US$150,1 miliar.
Kenaikan cadangan devisa tersebut, menurut catatan Mureks, terutama bersumber dari penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman pemerintah.






