Tren

Rupiah Diproyeksi Melemah Lanjutan di Akhir Pekan, Sentimen Global Jadi Penentu Arah Pasar

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih akan berada di bawah tekanan pada perdagangan akhir pekan, Jumat (9/1/2026). Dominasi sentimen eksternal, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), serta sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko menjadi faktor utama yang membatasi ruang penguatan mata uang Garuda.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa sentimen eksternal akan terus mendominasi pergerakan rupiah. Investor, menurut Mureks, akan mencermati sejumlah data penting dari AS, termasuk klaim pengangguran awal mingguan dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP). Perkembangan di sektor tenaga kerja AS ini diperkirakan akan sangat memengaruhi arah dolar AS dan aset global.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Apabila pasar tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan lanjutan, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga emas sekaligus memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Meskipun faktor domestik relatif stabil, namun belum cukup kuat untuk menjadi penopang utama.

Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhadap dolar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank pada Jumat (9/1) akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah lanjutan. Ia memperkirakan rupiah akan berada di kisaran 16.780 – 16.810 per dolar AS.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis (8/1), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah 18 poin atau 0,11 persen dari sehari sebelumnya, menjadi 16.798 per dolar AS.

Ibrahim menilai pelemahan ini diiringi oleh aktivitas bisnis di AS yang menunjukkan perbaikan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Jasa ISM melonjak dari 52,6 menjadi 54,4, jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 52,3.

“Data ekonomi AS menunjukkan bahwa aktivitas bisnis membaik, pasar tenaga kerja juga menunjukkan tanda-tanda yang lebih baik dari yang diperkirakan,” ujar Ibrahim.

Selain itu, Departemen Tenaga Kerja AS merilis laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) bulan November 2025 yang menunjukkan penurunan lowongan pekerjaan menjadi 7,14 juta, dari 7,44 juta pada Oktober. Hal ini dinilai menunjukkan pendinginan bertahap dalam permintaan tenaga kerja.

Perubahan Ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP) juga mencatat peningkatan penggajian swasta sebesar 41 ribu pada bulan Desember. Angka ini memang kurang dari perkiraan sebesar 47 ribu, namun menandai peningkatan yang jelas dari kehilangan pekerjaan sebesar 29 ribu pada bulan November.

Mureks