Ruben Amorim resmi dipecat dari kursi manajer Manchester United pada 5 Januari 2026, mengakhiri masa jabatannya selama 14 bulan yang penuh gejolak. Keputusan ini disebut-sebut dipicu oleh serangkaian konflik internal, terutama terkait penolakan klub untuk merekrut sejumlah pemain yang menjadi target utamanya.
Menurut laporan Sportbible, Amorim sangat berambisi untuk membawa empat pemain binaannya dari Sporting Lisbon ke Old Trafford. Mereka adalah Geovany Quenda, Ousmane Diomande, Salvador Blopa, dan Morten Hjulmand, yang dianggap cocok dengan filosofi permainannya.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Namun, manajemen Manchester United menolak usulan tersebut dan memilih untuk mengejar target transfer lain. Geovany Quenda, pemain sayap berusia 18 tahun, bahkan telah mencapai kesepakatan untuk bergabung dengan Chelsea pada musim panas 2026. Sementara itu, bek tengah Ousmane Diomande (22 tahun) yang dikenal karena fisik dan kekuatannya, tidak pernah mencapai kemajuan konkret dalam negosiasi.
Dua nama lain, bek Salvador Blopa (18 tahun) dan kapten Sporting Morten Hjulmand, juga tidak mendapat lampu hijau dari Setan Merah. Padahal, keempat pemain ini dinilai sangat sesuai untuk sistem taktik 3-4-2-1 yang menjadi andalan Amorim.
Penolakan berulang terhadap proposal transfer ini dilaporkan memicu ketidakpuasan pelatih asal Portugal tersebut. Puncaknya, Amorim melontarkan pernyataan kritis terhadap kepemimpinan klub pada akhir pekan lalu, sebelum akhirnya dipecat.
Setelah pemecatan Amorim, mantan gelandang Darren Fletcher ditunjuk untuk memimpin tim sementara dalam pertandingan melawan Burnley pada 8 Januari. Dewan Manchester United kini tengah mempertimbangkan opsi jangka panjang, dengan nama Oliver Glasner atau Ole Gunnar Solskjaer disebut-sebut sebagai kandidat.
Obsesi Formasi 3-4-3 Runtuhkan Rezim Amorim
Selain konflik transfer, kepatuhan ekstrem Ruben Amorim terhadap sistem 3-4-3 juga menjadi faktor krusial dalam kegagalannya di Manchester United. Meskipun ada beberapa momen cemerlang, perjalanan manajer Portugal ini dinilai banyak pihak sudah ditakdirkan untuk gagal sejak awal.
Mureks mencatat bahwa kilasan-kilasan kecemerlangan seperti kemenangan 2-1 atas Manchester City di Etihad, kemenangan comeback melawan Arsenal di Piala FA, dan kemenangan dramatis atas Lyon di Liga Europa, tidak mampu menutupi kelemahan sistem yang diterapkan.
Pakar sepak bola Michael Cox berpendapat bahwa momen-momen positif tersebut justru terjadi ketika Amorim terpaksa keluar dari formasi 3-4-3 yang kaku. Hal ini memungkinkan pemain seperti Amad Diallo untuk bersinar melalui improvisasi. Namun, setiap kali Man United kembali ke formasi 3-4-3 “standar”, permainan tim kembali tidak teratur dan stagnan.
Potongan Persegi di Dalam Lubang Bundar
Masalah utama Amorim adalah memaksakan sistem yang kompleks pada skuad yang tidak cocok. Manchester United di bawah kepemimpinannya menjadi kumpulan pengaturan yang dipaksakan, membuat para pemain bintang kebingungan.
- Bruno Fernandes: Bintang paling bersinar ini kebingungan, tidak yakin apakah ia seorang pemain sayap atau gelandang bertahan, padahal keahliannya adalah bermain sebagai gelandang serang nomor 8 atau 10.
- Noussair Mazraoui: Bek sayap murni ini terpaksa bermain sebagai bek tengah yang tidak berada di tengah atau bek sayap.
- Kobbie Mainoo: Dirotasi dari gelandang bertahan menjadi gelandang serang, bahkan pernah ditempatkan sebagai striker.
Ironisnya, satu-satunya pemain yang benar-benar cocok untuk formasi pertahanan tiga pemain, Lisandro Martinez, justru menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang perawatan karena cedera. Kurangnya personel yang sesuai ini membuat gaya bermain Setan Merah mudah ditebak oleh lawan.
Tim-tim papan tengah seperti Wolves dan Crystal Palace bahkan disebut mengoperasikan formasi 3-4-3 jauh lebih lancar dibandingkan Manchester United di bawah Amorim.
Kompromi Terlambat dan Akhir yang Dapat Diprediksi
Kejatuhan Amorim juga berakar dari keputusan personel yang dipertanyakan, seperti penggunaan duet gelandang lambat Casemiro dan Eriksen melawan tim Newcastle yang kuat secara fisik pada Desember 2024. Keterlambatan dalam melakukan pergantian pemain saat melawan Everton juga menjadi sorotan.
Pada minggu-minggu terakhir masa jabatannya, manajer Portugal itu mulai goyah dan bereksperimen dengan formasi empat bek karena kekurangan pemain akibat AFCON dan cedera. Namun, tindakan ini menyerupai langkah Andre Villas-Boas di Chelsea pada tahun 2012: seorang manajer muda yang meninggalkan filosofi bertahan hidup untuk menyelamatkan situasi, hanya untuk kehilangan otoritas dan identitasnya.
Seandainya Ruben Amorim menyadari lebih awal bahwa formasi 3-4-3 tidak cocok, mungkin Manchester United tidak akan mengalami kekalahan memalukan di final Liga Europa musim lalu atau tersingkir dari Piala Carabao oleh Grimsby Town. Gambaran Amorim yang duduk tak bergerak, menatap tanah alih-alih menonton adu penalti melawan Grimsby, melambangkan ketidakberdayaan sebuah dinasti yang “hilang” sejak awal berdirinya.






