Tren

Rio Tinto dan Glencore Semakin Dekat Capai Kesepakatan Merger, Fokus Premi dan CEO

Pembicaraan merger antara raksasa pertambangan Rio Tinto Group dan Glencore Plc dilaporkan semakin serius, berpotensi menciptakan perusahaan pertambangan terbesar di dunia. Kedua perusahaan telah mengonfirmasi diskusi tersebut pada Kamis malam, 9 Januari 2026, menandai upaya paling signifikan untuk menyatukan dua entitas besar ini.

Upaya Lama dan Kekhawatiran Portofolio

CEO Glencore, Gary Nagle, sebelumnya menyebut potensi kesepakatan ini sebagai “kesepakatan paling jelas di industri pertambangan”. Upaya untuk mewujudkan merger ini sebenarnya telah dirintis oleh pendahulunya, Ivan Glasenberg, selama hampir dua dekade. Namun, baru kali ini diskusi mencapai tahap paling serius, meskipun masih dalam tahap awal, menurut sumber yang mengetahui proses tersebut.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

Pergeseran sikap Rio Tinto Group kali ini didorong oleh kekhawatiran internal terhadap portofolio mereka yang didominasi bijih besi. Catatan Mureks menunjukkan, Rio Tinto khawatir akan tertinggal di tengah maraknya aktivitas merger dan akuisisi (M&A) di sektor tembaga yang sedang berlangsung.

Hambatan Masa Lalu dan Konfigurasi Kepemimpinan Baru

Diskusi merger serupa pernah terjadi secara serius pada akhir tahun 2024, namun gagal mencapai kesepakatan. Saat itu, kegagalan disebabkan oleh keengganan Rio Tinto untuk membayar premi besar yang diminta, serta adanya perbedaan budaya yang dipupuk oleh CEO Rio Tinto kala itu dan kepemimpinan Glencore. Glencore bahkan sempat mendesak Gary Nagle untuk memimpin perusahaan gabungan jika merger berhasil.

Kini, konfigurasi kepribadian di kedua belah pihak dinilai lebih kondusif untuk mencapai kesepakatan. Meskipun demikian, sumber menekankan bahwa diskusi masih dalam tahap awal dan belum ada jaminan kesepakatan akan tercapai.

Mureks