Gelombang demonstrasi besar-besaran melanda berbagai kota di Amerika Serikat pada Minggu, 4 Januari 2026. Para pengunjuk rasa membanjiri jalan-jalan dari Pantai Barat hingga Pantai Timur untuk menyuarakan kemarahan atas agresi militer Washington terhadap Venezuela serta penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Kecaman atas Agresi Militer dan Penangkapan Pemimpin Venezuela
Para demonstran mengecam tindakan tersebut sebagai agresi yang melanggar hukum dan sembrono, yang berisiko menyeret AS ke dalam konflik bersenjata lainnya. Di Seattle, para pengunjuk rasa berkumpul di tepi laut kota, meneriakkan, “Rakyat yang bersatu tidak akan pernah dikalahkan.” Mereka membawa papan protes dan menegaskan bahwa invasi tersebut melanggar norma internasional dan hukum domestik.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Sementara itu, di Philadelphia, ratusan orang berbaris dari Balai Kota menuju pusat perekrutan Angkatan Bersenjata AS di Spring Garden Street. Mereka memprotes tindakan Washington terhadap Venezuela dan peningkatan peran militer dalam kebijakan luar negeri. David Gibson, salah satu direktur Peace, Justice, Sustainability NOW! sekaligus penyelenggara protes, menyatakan, “Kongres perlu mengambil kembali kekuasaannya… Mereka seharusnya mewakili rakyat. Kitalah yang seharusnya memutuskan apakah akan berperang atau tidak.”
Di ibu kota, tepatnya di luar Gedung Putih, Washington, para demonstran meneriakkan “Hidup, Hidup, Venezuela,” sambil membentangkan papan bertuliskan “Tidak Ada Perang di Venezuela,” “Akhiri Imperialisme AS,” dan “Tidak Ada Pertumpahan Darah untuk Minyak.” Mereka menilai serangan ini mengungkap prioritas Washington yang sebenarnya dan kesediaan mereka untuk terus menggunakan kekerasan guna memaksakan kehendak di luar negeri.
Di Illinois, unjuk rasa yang mengusung slogan “Tidak Ada Perang di Venezuela” menarik banyak peserta. Mereka berpendapat bahwa serangan tersebut melanggar Konstitusi AS, membahayakan nyawa warga Amerika, dan merupakan campur tangan asing yang didorong oleh kepentingan minyak, bukan nilai-nilai demokrasi.
Meskipun diguyur hujan deras, ratusan orang berkumpul di pusat kota Los Angeles, bersikeras agar suara mereka didengar. Para penyelenggara aksi di Los Angeles menegaskan bahwa operasi militer tersebut tidak ada hubungannya dengan demokrasi, melainkan sepenuhnya berkaitan dengan kontrol atas sumber daya energi Venezuela.
Di Chicago, para demonstran mengecam keras serangan AS terhadap Venezuela dan penculikan pemimpin negara berdaulat tersebut. Andy Thayer dari Komite Chicago Melawan Perang dan Rasisme menyoroti pola intervensi AS, “Baik itu Saddam Hussein di Irak atau Taliban di Afghanistan, Panama, Libya, sebut saja… setiap kali AS menyerang negara lain seperti ini, rakyat negara-negara itulah yang paling menderita.”
Konteks Agresi dan Reaksi Global
Aksi protes ini menyusul serangan rudal dan drone yang dilancarkan angkatan bersenjata AS di kota-kota besar Venezuela, khususnya ibu kota Caracas, pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026. Operasi militer ini juga berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya.
Mureks mencatat bahwa di luar jalanan, para anggota parlemen, jurnalis, dan analis di seluruh dunia telah menyebut operasi tersebut ilegal, imperialis, dan eskalasi berbahaya yang mengancam akan menggoyahkan seluruh kawasan.






