Tren

Revolusi Kendaraan Listrik: Mampukah Mengakhiri Era Konflik Geopolitik Berbasis Minyak Dunia?

Ketegangan geopolitik di Venezuela, yang sempat disorot akibat ambisi Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, kembali mengingatkan dunia akan satu fakta lama: minyak bumi masih menjadi pemicu konflik internasional. Di tengah dinamika tersebut, kendaraan listrik (EV) muncul sebagai solusi nyata untuk mengurangi ketergantungan global terhadap minyak, sekaligus berpotensi meredam konflik di masa depan.

Melansir dari tulisan Jameson Dow di Electrek berjudul “Electric vehicles will end oil wars – if we let them”, sebagian besar konflik geopolitik modern memiliki kaitan erat dengan kepentingan energi fosil. Sejak abad ke-20, minyak bukan sekadar sumber energi, melainkan juga instrumen geopolitik. Banyak konflik bersenjata, sanksi ekonomi, hingga tekanan diplomatik berakar pada perebutan atau distribusi minyak dan gas.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Contoh paling jelas terlihat dalam hubungan Rusia dan Eropa. Ketergantungan Eropa pada pasokan energi Rusia selama bertahun-tahun membuat respons internasional terhadap berbagai konflik cenderung lunak. Baru setelah krisis membesar, negara-negara Eropa mempercepat transisi energi, meski harus menghadapi lonjakan harga yang signifikan. Bahkan, Departemen Pertahanan Amerika Serikat secara terbuka mengakui bahwa perubahan iklim dan ketergantungan energi fosil berpotensi memicu konflik global di masa depan.

Data global menunjukkan bahwa sektor transportasi menyerap porsi terbesar konsumsi minyak dunia, dengan kendaraan ringan seperti mobil penumpang menjadi kontributor utama. Sebagian minyak lainnya digunakan untuk pemanas dan industri, sementara sisanya untuk produk turunan seperti plastik. Ini berarti, pengurangan konsumsi minyak secara signifikan hanya bisa dicapai jika dunia mampu mengubah sistem transportasinya. Di sinilah kendaraan listrik memainkan peran kunci.

Carole Nakhle dari GisReportsOnline, dalam tulisannya “Rethinking oil demand in the electric vehicle era”, mengutip proyeksi BloombergNEF yang memperkirakan penjualan mobil listrik global pada 2025 mendekati 22 juta unit, naik sekitar 25 persen dari tahun sebelumnya. Sementara itu, International Energy Agency (IEA) memproyeksikan total populasi EV dunia dapat mencapai 250 juta unit pada 2030.

China menjadi motor utama revolusi ini. Pada 2024, hampir setengah mobil baru yang terjual di China adalah kendaraan listrik, dan negara tersebut menyumbang hampir dua pertiga penjualan EV global. Dominasi China juga terlihat di sisi produksi, dengan lebih dari 70 persen EV dunia dibuat di sana. Produsen lokal seperti BYD bahkan berhasil menyalip Tesla sebagai produsen EV terbesar dunia, dengan pangsa pasar global di atas 20 persen. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran kuat pemerintah China melalui subsidi, insentif pajak, kebijakan industri jangka panjang, dan dukungan rantai pasok.

Meskipun secara persentase EV masih kecil dibanding total populasi kendaraan global—sekitar 1 persen dari 1,6 miliar kendaraan—dampaknya terhadap pasar minyak mulai terasa. IEA mencatat, pada 2024 EV telah menggantikan konsumsi minyak lebih dari 1,3 juta barel per hari, setara dengan seluruh kebutuhan minyak sektor transportasi Jepang. Angka ini diperkirakan melonjak menjadi lebih dari 5 juta barel per hari pada 2030, dengan China menyumbang hampir setengahnya.

Sekilas, angka tersebut tampak kecil dibanding konsumsi minyak global yang melampaui 100 juta barel per hari. Namun, para analis menilai dampaknya jauh lebih besar karena bersifat permanen dan struktural, bukan sementara seperti penurunan permintaan saat pandemi Covid-19. Mureks mencatat bahwa “Penurunan kecil namun konsisten dalam jangka panjang sudah cukup untuk mengubah dinamika pasar,” demikian kesimpulan banyak ekonom energi.

Tantangan Adopsi Kendaraan Listrik Global

Meski pertumbuhannya pesat, jalan EV menuju dominasi global masih panjang. Ketimpangan adopsi antarwilayah masih mencolok. Di luar China dan beberapa negara maju seperti Norwegia, EV masih kerap diposisikan sebagai produk mahal. Infrastruktur pengisian daya juga menjadi hambatan utama, terutama ketersediaan fast charger di luar kota besar.

Selain itu, tekanan terhadap jaringan listrik serta isu lingkungan dari penambangan material baterai—seperti litium, kobalt, dan nikel—menjadi tantangan tersendiri. Ketidakpastian kebijakan turut memperlambat transisi. Sejumlah negara mulai melonggarkan target pelarangan kendaraan bermesin bensin dan diesel. Inggris, misalnya, menunda larangan penjualan mobil ICE dari 2030 menjadi 2035, sementara dukungan fiskal EV di Eropa dan Amerika Serikat cenderung melemah.

Masa Depan Pasar Minyak di Era Elektrifikasi

Kombinasi meningkatnya adopsi EV dan tren penurunan intensitas minyak—jumlah minyak yang dibutuhkan per unit pertumbuhan ekonomi—menandai perubahan besar dalam peta energi global. Di masa depan, persaingan produsen minyak bukan lagi soal meningkatkan produksi, melainkan bertahan di pasar yang stagnan atau menyusut. Tekanan harga akan meningkat, dan hanya produsen dengan biaya produksi rendah yang mampu bertahan dengan margin tipis.

Negara-negara produsen berbiaya tinggi diperkirakan akan menghadapi tekanan fiskal dan geopolitik yang semakin berat. Sebaliknya, eksportir berbiaya rendah, khususnya di kawasan Teluk, masih dapat mempertahankan pangsa pasar—meski dengan keuntungan yang lebih kecil. Dalam skenario paling realistis, kendaraan listrik tidak akan sepenuhnya menghapus kendaraan bermesin pembakaran dalam waktu dekat. Namun, dominasi mutlak minyak bumi di sektor transportasi dipastikan berakhir.

Era “keuntungan mudah” industri minyak perlahan memudar. Minyak bumi tidak akan lenyap, tetapi posisinya sebagai penguasa tunggal transportasi global semakin tergerus—digantikan oleh persaingan yang lebih ketat, margin lebih tipis, dan tuntutan adaptasi yang tak terelakkan di era elektrifikasi.

Referensi penulisan: id.mashable.com

Mureks