Real Madrid berhasil mengamankan tiket final Piala Super Spanyol 2026 setelah menundukkan rival sekota, Atletico Madrid, dengan skor 2-1. Pertandingan sengit yang digelar di King Abdullah Sports City Stadium, Jeddah, Arab Saudi, pada Jumat (9/1/2026) dini hari WIB itu menjadi panggung bagi gol cepat Fede Valverde di menit kedua melalui tendangan bebas, disusul serangan balik mematikan Rodrygo di babak kedua.
Satu gol balasan dari Alexander Sorloth tidak cukup untuk menyelamatkan Los Rojiblancos. Namun, kemenangan ini harus dibayar mahal oleh Los Blancos. Di balik euforia lolos ke partai puncak melawan Barcelona, pelatih Xabi Alonso harus memutar otak melihat kondisi skuadnya yang kian compang-camping.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Kemenangan ini bukan tentang dominasi taktik yang indah, melainkan tentang seni bertahan hidup. Madrid menang dengan cara pragmatis, namun harus membayar lunas dengan krisis baru di lini pertahanan.
Mental Pemenang Kembali Teruji
Apakah Madrid bermain lebih baik dibanding saat dipermalukan 2-5 pada September lalu? Secara hasil, ya. Namun secara performa, tanda tanya besar masih menggantung.
Mureks mencatat bahwa statistik menunjukkan Atletico sebenarnya lebih mendominasi permainan. Tim asuhan Diego Simeone menguasai 54% bola dan mencatatkan Expected Goals (xG) sebesar 2.02, jauh di atas Madrid yang hanya 1.14. Los Blancos terlihat kesulitan mengontrol permainan, namun perbedaan kualitas mental berbicara di sini. Mereka mampu “mengertakkan gigi”, menahan gempuran, dan memaksimalkan peluang sekecil apa pun menjadi gol.
Xabi Alonso mungkin tidak sepenuhnya puas melihat cara timnya bermain. Namun, kemampuan untuk menang dalam kondisi tertekan, sesuatu yang sempat hilang musim ini, akhirnya kembali terlihat.
Kebangkitan Rodrygo Goes
Di tengah sorotan tajam terhadap Vinicius Junior dan absennya Kylian Mbappe, panggung Jeddah menjadi milik Rodrygo Goes. Pemain Brasil ini seolah mengalami kelahiran kembali.
Setelah melalui tahun 2025 yang mengecewakan—dimana ia sempat puasa gol dari Maret hingga Desember—Rodrygo kini tampil sebagai protagonis utama. Satu gol lewat serangan balik impresif di laga ini melengkapi catatan gemilangnya: tiga gol dan tiga assist dalam lima laga terakhir sebagai starter. Ia mengambil tanggung jawab serangan ketika tim membutuhkannya. Statistik dribel dan keberaniannya menusuk pertahanan lawan membuktikan bahwa Rodrygo adalah pemain untuk laga-laga besar.
Pertaruhan Antonio Rudiger dan Krisis Lini Belakang
Sisi gelap dari kemenangan ini ada di lini belakang. Antonio Rudiger dipaksa tampil sebagai starter meski sedang menahan sakit akibat cedera lutut, semata-mata karena Madrid tak punya pilihan lain.
Dean Huijsen belum bugar, Dani Carvajal baru pulih, dan Alaba masih absen. Rudiger pun harus berduet dengan bek muda Raul Asencio dalam duel fisik yang brutal melawan Alexander Sorloth. Bek Jerman itu bertahan selama 69 menit dengan kerja keras luar biasa sebelum akhirnya menyerah. Ia meninggalkan lapangan dengan terpincang-pincang, nyaris tak bisa berjalan.
Situasi ini memaksa Aurelien Tchouameni mundur menjadi bek tengah dan Ferland Mendy masuk mengisi pos bek kiri. Sebuah solusi darurat yang tentu tak ingin diulang Alonso saat melawan Barcelona nanti.
Realita Pahit Gonzalo Garcia
Absennya Mbappe karena cedera ligamen lutut memberi kesempatan langka bagi Gonzalo Garcia untuk menjadi ujung tombak. Sayangnya, magis hat-trick saat melawan Betis tak berbekas di laga ini.
Gonzalo terlihat kesulitan menghadapi level permainan Atletico yang tinggi. Ia minim suplai bola, tidak melepaskan satu pun tembakan, dan hanya mencatatkan satu sentuhan di kotak penalti lawan. Alih-alih menjadi ancaman, ia lebih banyak berperan sebagai pemantul bola. Performa ini menegaskan jurang kualitas yang masih ada antara laga domestik biasa dengan duel level tinggi sekelas derby.
El Clasico di Final: Madrid dalam Posisi Underdog?
Senin (12/1/2026) dini hari nanti, final ideal akan tersaji: Real Madrid vs Barcelona. Ini adalah ulangan final tahun lalu, di mana Barcelona keluar sebagai pemenang yang sekaligus mengakhiri era Carlo Ancelotti.
Kini, Hansi Flick berpeluang memberikan pukulan serupa bagi Xabi Alonso. Dengan kondisi pertahanan yang darurat dan kemungkinan besar masih tanpa Mbappe, Real Madrid menatap final ini dengan status underdog. Di atas kertas, Barcelona yang lebih bugar difavoritkan mengangkat trofi di Jeddah.
Namun, seperti yang ditunjukkan di semifinal, Real Madrid tahu caranya menderita untuk menang. Mentalitas ini akan menjadi kunci dalam upaya mereka meraih gelar di tengah badai cedera.






