Aset kelolaan global diproyeksikan akan melonjak signifikan, menembus angka 200 triliun dollar AS atau setara Rp 3.300 kuadriliun pada tahun 2030. Proyeksi ini, yang dirilis oleh PwC, mengindikasikan pergeseran struktural fundamental dalam industri manajemen aset dunia. Mureks mencatat bahwa total AUM global pada tahun 2024 tercatat sebesar 139 triliun dollar AS (Rp 2.293,5 kuadriliun), menunjukkan potensi pertumbuhan yang masif dalam enam tahun ke depan.
Asia-Pasifik Pimpin Laju Pertumbuhan Tercepat
Kawasan Asia-Pasifik diidentifikasi sebagai motor utama pertumbuhan ini, dengan proyeksi laju tercepat mencapai 6,8 persen per tahun. Angka ini melampaui wilayah lain seperti Amerika Utara yang tumbuh 6,2 persen, Amerika Latin 6,6 persen, Timur Tengah dan Afrika 6,3 persen, serta Eropa yang berada di angka 5,6 persen.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Secara paralel, total kekayaan global yang dapat diinvestasikan juga diperkirakan akan meningkat pesat. Dari 345 triliun dollar AS (Rp 5.692,5 kuadriliun) pada tahun 2024, angka ini diproyeksikan mencapai 482 triliun dollar AS (Rp 7.953 kuadriliun) pada akhir dekade ini, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 5,7 persen.
Peran Krusial Segmen Mass Affluent dan HNWI
PwC lebih lanjut menjelaskan bahwa dua pertiga dari pertumbuhan kekayaan global tersebut didorong oleh perubahan struktural dan demografis. Segmen Mass Affluent diproyeksikan tumbuh 5,7 persen, sementara High-Net-Worth Individuals (HNWI) diperkirakan akan melaju lebih cepat dengan pertumbuhan 6,5 persen.
Meski demikian, di tengah optimisme pertumbuhan ini, tekanan terhadap para manajer aset tetap tinggi. John Dovaston, PwC Indonesia Advisor, dalam keterangan persnya pada Selasa (6/1/2026), menegaskan, “Biaya dan kinerja menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan hubungan antara investor dan pengelola aset.” Hal ini menggarisbawahi pentingnya efisiensi dan hasil investasi yang optimal bagi para pengelola aset di masa mendatang.






