Keuangan

Purbaya Yudhi Sadewa Optimistis 6%, Ekonom Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 di Bawah 5%

Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6% pada tahun tersebut, melebihi target APBN 2026 sebesar 5,4%.

“Tahun 2026, harusnya pertumbuhan 6% seperti yg saya bilang sebelum-sebelumnya tidak terlalu sulit tercapai,” ujar Purbaya saat konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (31/12/2025).

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Proyeksi CORE Indonesia: Sulit Capai 6%, Bahkan di Bawah 5%

Namun, optimisme pemerintah ini ditanggapi berbeda oleh sejumlah ekonom. Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 akan melambat dan sulit mencapai angka 6%.

Menurut Faisal, bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berdampak langsung pada sektor produksi dan konsumsi di 52 kabupaten. Wilayah-wilayah ini menyumbang sekitar 5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Kontribusinya cukup besar, sehingga gangguan ekonomi di wilayah itu berpengaruh ke pertumbuhan nasional,” kata Faisal kepada tim redaksi Mureks.

CORE Indonesia awalnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 berada di kisaran 4,9-5,1%. Namun, imbas bencana alam tersebut, proyeksi ini kemungkinan besar semakin sulit dicapai karena pertumbuhan ekonomi di tiga provinsi terdampak secara otomatis akan terpangkas.

Sebagai contoh, untuk kuartal IV-2025 saja, ekonomi Aceh diprediksi menghadapi tekanan terberat dengan estimasi koreksi pertumbuhan PDRB mencapai -0,44%. Sementara Sumatera Utara -0,15% dan Sumatera Barat -0,36%.

“Jadi, kalau di 2025 dia baru terasa di satu bulan saja di Desember, nah 2026 ini jadi kan lebih panjang. Karena rekonstruksi pemulihan itu kan nggak bisa sebentar. Jadi saya rasa sepanjang 2026 untuk 52 kabupaten yang terdampak bencana ini akan minus pertumbuhannya,” jelas Faisal.

Ia menambahkan, dampak bencana alam bisa berlangsung bertahun-tahun. “Kita bisa berkaca pada saat tsunami Aceh. Di tsunami Aceh itu dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh itu bukan hanya terasa di 2004 waktu itu, tapi minusnya itu sampai 2005, 2006, 2007. Jadi beberapa tahun setelah tsunami masih terasa,” sambungnya.

Berdasarkan analisis tersebut, Faisal menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tidak akan mencapai 5%. “Jadi kita range-nya 4,9-5,1% di 2026 kemungkinan besar jadinya di batas bawah 4,9%. Masih dalam range tapi batas bawah,” tegasnya.

Meskipun demikian, Faisal tidak menutup kemungkinan peningkatan jika pemerintah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lebih jauh. “Tapi nanti kita lihat bagaimana perubahan strateginya, efektifnya daripada kebijakan pemerintah, itu yang juga mempengaruhi. Ini bisa saja mungkin di atas 5,1%. Tapi seberapa efektif pemerintah melihat permasalahan, hambatan terhadap pertumbuhan ekonomi ini dan kemudian mengubah secara responsif,” terangnya.

INDEF: Tetap di Atas 5%, Namun Sulit Capai Target Pemerintah

Sementara itu, Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berpotensi tetap di atas 5%, bahkan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi 2025 yang diramal sebesar 5,06-5,07%.

“Kalau INDEF kan melihat 2026 tetap moderat, berada di angka 5%. Pemerintah sendiri target 5,4%, menurut saya 2026 tetap 5% tapi lebih tinggi daripada 2025,” jelas Tauhid.

Menurutnya, perbaikan belanja pemerintah, khususnya pada program-program prioritas Presiden Prabowo Subianto, akan menjadi pendorong utama. Program seperti makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih diharapkan memberikan dampak.

Namun, Tauhid mencatat bahwa efektivitas program-program tersebut belum optimal pada tahun 2025. “Jadi beberapa hal itu masih belum optimal. MBG ini proses, jadi dampaknya masih kecil di tahun 2025. Karena jumlah penerima manfaat, kemudian mekanisme, serapan anggaran banyak yang di bawah target tahun 2025,” tuturnya.

Ia menambahkan, “Koperasi Merah Putih kan baru 100-200 yang jalan, yang lainnya kan belum, baru berbadan hukum saja 80 ribu. Jadi karena baru dimulai, semua baru dimulai, jadi belum bisa kelihatan efektivitasnya di 2025.”

Tauhid juga mengakui bahwa proyeksi ini belum sepenuhnya memasukkan dampak bencana banjir dan longsor di Sumatera. Hal ini membuat target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan 5,4% akan semakin sulit terpenuhi.

“2026 pertumbuhannya masih tetap sama, di atas 5%. Tapi susah mendekati target 5,4%. Faktor dari bencana itu di Aceh, di Sumbar, dan di Sumut saya kira itu yang membuat ekonomi kita agak sulit tumbuh 5,4%, tapi kalau 5% itu sampai lah,” imbuhnya.

Mureks