PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) resmi mencairkan fasilitas kredit angsuran berjangka senilai Rp100 miliar dari PT Bank Danamon Tbk. Pencairan dana tersebut dilakukan pada 31 Desember 2025, menandai langkah perseroan dalam memperkuat pendanaan untuk operasional dan pengembangan usaha.
Manajemen PJAA, melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (1/1/2026), menjelaskan bahwa transaksi ini merupakan bagian dari pemanfaatan fasilitas pembiayaan yang telah diperoleh dari Bank Danamon. Mureks mencatat bahwa pencairan fasilitas kredit ini terjadi di tengah upaya perseroan untuk memperkuat pendanaan, menyusul laporan keuangan yang menunjukkan penurunan signifikan pada pendapatan dan laba bersih.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Fasilitas kredit angsuran berjangka ini diharapkan dapat menopang kebutuhan pendanaan perseroan seiring dengan aktivitas operasional serta rencana pengembangan usaha sebagai pengembang kawasan properti komersial. Namun, dalam keterbukaan informasi tersebut, perseroan tidak menyertakan penjelasan tambahan terkait dampak spesifik terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perusahaan.
Langkah pencairan kredit ini terjadi di tengah catatan penurunan kinerja keuangan PJAA. Sebelumnya, hingga September 2025, perseroan mencatat penurunan pendapatan dan laba.
Kinerja Keuangan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk meraup pendapatan usaha sebesar Rp798,52 miliar hingga September 2025. Angka ini menunjukkan penurunan 9,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp881,44 miliar.
Seiring dengan penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan perseroan juga tercatat Rp22,33 miliar hingga September 2025, turun dari Rp29,65 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, beban langsung justru naik menjadi Rp417,69 miliar hingga September 2025 dari sebelumnya Rp413,45 miliar.
Akibatnya, laba bruto perseroan menyusut 18,2 persen menjadi Rp358,49 miliar hingga 30 September 2025, dari Rp438,34 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun demikian, perseroan mencatat kenaikan pendapatan lainnya yang mencapai Rp28,38 miliar, meningkat dari Rp12,90 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba usaha perseroan juga mengalami penurunan signifikan sebesar 31,88 persen, menjadi Rp164,28 miliar hingga September 2025 dari Rp238,39 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 41,56 persen, dari Rp100,59 miliar menjadi Rp56,62 miliar.
Penurunan kinerja ini turut berdampak pada laba per saham dasar yang turun menjadi Rp37 hingga September 2025, dibandingkan Rp63 pada periode yang sama tahun sebelumnya.






