Keuangan

PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) Melonjak 24,92%, Bidik Ekspor Sarang Walet ke AS

Saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) melonjak signifikan pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Januari 2026. Emiten pengolah sarang burung walet ini mencatat kenaikan harga 24,92 persen, mencapai Rp 4.010 per saham, di tengah penguatan terbatas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Mengutip data RTI, harga saham RLCO dibuka pada posisi Rp 4.010, naik 800 poin dari penutupan sebelumnya. Sepanjang hari, saham RLCO bergerak di rentang tertinggi Rp 4.010 dan terendah Rp 3.210 per saham. Total frekuensi perdagangan mencapai 18.542 kali dengan volume 149.219 saham, menghasilkan nilai transaksi harian Rp 59,3 miliar.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Kapitalisasi pasar RLCO tercatat sebesar Rp 12,53 triliun. Catatan Mureks menunjukkan, performa saham RLCO juga impresif dalam jangka waktu lebih panjang. Berdasarkan data Google Finance, saham ini melonjak 88,26 persen dalam lima hari terakhir dan terbang 1.674,34 persen dalam satu tahun terakhir.

Kinerja IHSG dan Rencana Ekspor

Sementara itu, IHSG sendiri ditutup menguat tipis 0,13 persen ke posisi 8.936,75 pada akhir pekan. Indeks saham LQ45 juga bertambah 0,05 persen menjadi 868,02. Sebanyak 359 saham menguat, 318 melemah, dan 137 saham stagnan. Total frekuensi perdagangan IHSG mencapai 3.468.520 kali dengan volume 57 miliar saham dan nilai transaksi harian Rp 27,5 triliun. Kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran 16.816.

Di balik performa saham yang cemerlang, RLCO juga tengah membidik perluasan pasar ekspor untuk produk olahan sarang burung waletnya. Perseroan menargetkan Thailand dan Amerika Serikat (AS) sebagai tujuan ekspor baru pada tahun 2026.

Direktur Utama RLCO, Edwin Pranata, menjelaskan bahwa Vietnam menjadi negara pertama yang akan menjadi tujuan ekspor pada akhir 2025. “Nanti Thailand akan menyusul tahun depan dan ke Amerika,” ujar Edwin di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Senin, 8 Desember 2025.

Ekspor ke Thailand direncanakan terealisasi pada kuartal II-2026, sedangkan pengiriman ke AS akan dilakukan pada kuartal IV-2026. Produk yang diekspor merupakan olahan sarang burung walet yang dijual secara daring.

Edwin menambahkan, perseroan juga membidik negara-negara di kawasan Asia Tenggara lainnya. “Mungkin Asia Tenggara ya, negara Asia Tenggara seperti Filipina itu salah satu yang kita sasar sebenarnya di tahun depan juga. Saat ini belum (ada negara di luar Asia), Amerika yang akan jadi salah satu pasar yang non-Asia yang akan kita sasar. Karena Amerika sendiri kan punya komunitas penduduk Asia yang sangat besar juga,” jelasnya.

IPO dan Alokasi Dana

Performa positif RLCO ini tak lepas dari tonggak sejarah perseroan yang baru saja resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 8 Desember 2025. Saat pencatatan perdana saham atau initial public offering (IPO), saham RLCO melonjak 34,52 persen menjadi Rp 226 per saham dari harga penawaran Rp 168 per saham.

Edwin Pranata menyebut IPO ini sebagai babak baru bagi perseroan dan industri pengolahan sarang walet di Indonesia. “Pencatatan saham di BEI bukan hanya menandai babak baru bagi perusahaan tapi juga babak baru bagi masyarakat Indonesia. Karena mulai hari ini kita tidak lagi hanya berbicara tentang prestasi sebuah perusahaan semata,” kata Edwin dalam seremoni IPO.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengucapkan selamat atas IPO RLCO yang menjadi perusahaan tercatat ke-25 di tahun 2025, menjadikan total perusahaan tercatat menjadi 955. IPO RLCO juga mencatat oversubscribed terbesar sepanjang sejarah, diserbu oleh 520.000 investor pada proses penawaran umum.

Dana hasil IPO senilai Rp 105 miliar, yang dihimpun dari pelepasan 625.000.000 saham atau setara 20 persen porsi saham kepada publik, akan dialokasikan mayoritas untuk modal kerja. Sekitar 56,33 persen akan memenuhi kebutuhan modal perseroan, termasuk pembelian sarang burung walet. Sementara itu, 43,67 persen sisanya akan disalurkan ke anak usaha RLCO, PT Realfood Winta Asia, dalam bentuk penyertaan modal untuk membeli bahan baku sarang burung walet.

Mureks