Presiden Prabowo Subianto menyoroti serius ketersediaan air bersih di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026). Dalam rapat koordinasi terbatas yang dipimpinnya, Prabowo secara langsung mempertanyakan upaya penyediaan air bagi warga yang terdampak banjir dan longsor di wilayah tersebut.
Kekhawatiran Presiden muncul setelah ia menerima laporan mengenai kesulitan warga dalam mengakses air bersih. Berbagai metode telah dilakukan, mulai dari pengiriman air menggunakan mobil tangki hingga pengeboran tanah.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Prabowo Pertanyakan Titik Bor Air
“Mengenai air bersih di mana titik-titik air ataupun apa itu, bor air? Sudah berapa yang di Tamiang yang dibangun, dikirim, mungkin KSAD (bisa menjelaskan),” tanya Prabowo kepada Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak dalam rapat tersebut.
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, termasuk Mendagri Tito Karnavian, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Menlu Sugiono, Wakil Panglima Tandyo Budi, Kepala BNPB Suharyanto, Seskab Teddy Indra Wijaya, CEO Danantara Rosan Roeslani, COO Danantara Dony Oskaria, hingga Mensesneg Prasetyo Hadi.
Menanggapi pertanyaan Presiden, KSAD Maruli Simanjuntak melaporkan bahwa TNI AD telah mengebor 129 titik sumur air. “Terima kasih Pak, kami dari Angkatan Darat saja 129 titik,” ujar Maruli.
Prabowo kemudian memastikan, “129 titik bor air?”
Maruli melanjutkan, “Siap, dari BNPB melalui Pusterad juga ngebor, kepolisian saya kira sudah ratusan sampai kami di grup itu ada banyak pak.”
“Yang di Tamiang?” desak Prabowo.
“Itu masih terus,” jawab Maruli.
“Hampir seluruh desa sudah dapat air ya?” tanya Prabowo lagi.
Maruli menjelaskan bahwa pengeboran dilakukan di tempat pengungsian, sekolah, masjid, dan kecamatan, berkoordinasi dengan wilayah yang membutuhkan. “Jadi kami bekerja simultan dari Kemhan kami kirim 10 damkar makanya jalan cepet selesai di sini, Pak, terus huntara kami ikut kerja, air bersih juga pak,” paparnya.
Kualitas Air Minum dan Biaya Pengeboran
Namun, Prabowo belum sepenuhnya puas. Ia kembali menanyakan, “Itu bor air bisa untuk air minum?”
Maruli sempat terdiam, sebelum akhirnya Kepala BNPB Suharyanto mengambil alih penjelasan. “Izin bapak, jadi ada beberapa skema itu, yang dibangun Polri kedalaman 20-40 meter airnya hanya untuk membersihkan, kemudian dibangun Pusterad kami yang membiayai,” jelas Suharyanto.
“Pusterad?” tanya Prabowo.
“Pusat Teritorial Angkatan Darat, itu kedalaman 100-200 meter itu yang untuk minum. Jadi semua sudah dilakukan memang masih kurang, dilaksanakan terus untuk sehari-hari masih cukup karena mobil tangki air terus jalan,” terang Suharyanto.
Prabowo mengkritik penggunaan mobil tangki air karena memerlukan biaya BBM. Ia ingin mengetahui biaya pengeboran sumur air. “Ya kalau tangki air itu kita keluar BBM lagi. Itu kalau 100 meter biayanya berapa per bor?” tanyanya.
“Rp 150 juta, Rp 100-150 juta,” jawab Suharyanto.
“Lengkap?” Prabowo memastikan.
“Lengkap bapak, sampai instalasi air kemudian ada tangki air dan bisa langsung diambil masyarakat,” kata Suharyanto.
Mureks mencatat bahwa biaya pengeboran sumur air bersih dengan kedalaman 100-200 meter diperkirakan mencapai Rp 100-150 juta per titik, termasuk instalasi lengkap.
Maruli menambahkan bahwa proses pengeboran bisa memakan waktu lama tergantung kondisi tanah. “Mungkin engga cukup kalau di atas Rp 100 (juta) bang (Suharyanto). Karena itu kadang-kadang ngebor tergantung tanahnya, Pak, kalau tanahnya lunak mungkin 2 minggu baru dapat, kalau keras mungkin perlu lebih waktunya dari itu, dan juga dari kemhan kita kirim RO banyak jadi untuk bantu yang dangkal-dangkal,” jelas Maruli.
“Apa itu RO?” tanya Prabowo.
“Penjernih air yang berupa di mobil, berapa unit saya belum jelas, jadi terus kita lanjutkan pembuatan sumur bor dengan MCK,” jawab Maruli.
Prabowo menilai biaya Rp 150 juta untuk satu sumur bor relatif murah. “Maaf ya kalau 1 bor Rp 150 juta itu saya anggap relatif murah,” ujarnya.
“Tergantung kedalamannya, Pak,” timpal Suharyanto.
“Saya tahu, tapi termasuk ongkos pekerja enggak? Atau pakai tentara enggak dibayar?” tanya Prabowo. Suharyanto memastikan, “Dibayar, tetap.”
“Saya anggap itu relatif murah karena saya dulu ngebor agak besar tapi tergantung tanah,” pungkas Prabowo.
Satgas Khusus Air Bersih Dibentuk
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin kemudian menyampaikan bahwa sebuah Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk layanan air bersih telah dibentuk hari ini. Satgas ini akan bekerja selama dua pekan ke depan untuk melayani warga Kualasimpang, Aceh Tamiang.
“Setelah saya berkoordinasi dengan Pak Wakil Panglima dan Pak KSAD, kita ada Satgas Kuala. Satgas Kuala ini terdiri dari dua komposisi. Satu kompisi untuk pendalaman Kuala, satu komposisi pemanfaatan air di Kuala,” jelas Sjafrie.
Ia menambahkan, “Di dua kompisisi kapal ini akan kita naikkan water treatment system. Sehingga air yang ada di Kuala kita ambil, kita olah sehingga jadi air jernih.”
“Bagus, koordinasi sama gubernur ya daerah masing-masing semua,” jawab Prabowo, menyetujui inisiatif tersebut.






