Hiburan

Porco Rosso: Kisah Pilot Babi Pemburu Bayaran Melawan Bajak Laut dan Rezim Fasis di Langit Adriatik

Film animasi klasik Porco Rosso (1994) dari Studio Ghibli kembali mengajak penonton menyelami Eropa tahun 1929, sebuah era pasca-Perang Dunia I yang penuh gejolak. Disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Hayao Miyazaki, film ini menghadirkan kisah unik seorang pilot tempur Italia yang hidup dengan kutukan misterius: kepalanya berubah menjadi babi.

Kisah Porco Rosso: Pilot Babi Pemburu Bayaran

Kisah ini berpusat pada Porco Rosso, yang dulunya dikenal sebagai Shūichirō Moriyama, seorang pilot tempur andal dari Italia. Setelah perang, ia memilih jalur hidup sebagai pemburu bayaran, melindungi kapal-kapal laut dari serangan bajak laut udara yang merajalela di wilayah Adriatik. Meskipun berwujud babi, keahlian terbangnya tak tertandingi, menjadikannya legenda sekaligus target.

Dapatkan berita menarik lainnya di mureks.co.id.

Konflik mulai memanas ketika para bajak laut yang geram menyewa pilot Amerika bernama Curtis untuk menandingi Porco. Curtis bukan hanya rival di udara, tetapi juga dalam urusan hati. Ia menaruh hati pada Gina, pemilik Hotel Adriano yang diam-diam menyimpan perasaan mendalam terhadap Porco. Segitiga asmara ini menambah kompleksitas dalam persaingan sengit mereka.

Perjalanan dan Pertemuan Tak Terduga

Ketika pesawat Porco ditembak jatuh, ia terpaksa pergi ke Milan untuk memperbaikinya. Di sana, ia bertemu dengan mekanik Piccolo dan cucunya, Fio. Fio, seorang gadis muda yang cerdas dan penuh semangat, kemudian ikut membantu Porco dalam memperbaiki pesawatnya. Pertemuan ini menjadi titik balik penting, membawa perspektif baru bagi Porco yang cenderung menyendiri.

Di tengah tekanan dari rezim fasis Italia yang mulai menguasai langit dan memanfaatkan para bajak laut, posisi Porco semakin tersisih. Namun, Porco Rosso bukan sekadar film aksi udara. Menurut Mureks, film ini juga secara mendalam menggali luka batin Porco akibat perang, rasa bersalah karena selamat ketika teman-temannya gugur, serta keyakinannya bahwa ia harus hidup sendiri tanpa terikat siapa pun.

Luka Batin dan Pilihan Hidup

Melalui interaksinya dengan Fio dan Gina, penonton perlahan melihat sisi manusiawi Porco yang rapuh namun jujur. Film ini mengeksplorasi tema-tema seperti trauma perang, isolasi, dan pencarian makna hidup di tengah kekacauan. Puncak cerita hadir lewat duel ikonik antara Porco dan Curtis, yang awalnya pertempuran udara, namun berubah menjadi adu tinju kocak yang sarat makna.

Pada akhirnya, Porco Rosso meninggalkan banyak hal tersirat tentang cinta, pilihan hidup, dan kebebasan. Film ini dibintangi oleh Shūichirō Moriyama sebagai Porco Rosso, Tokiko Katō sebagai Madame Gina, Bunshi Katsura VI sebagai Mr. Piccolo, Akemi Okamura sebagai Fio Piccolo, dan Akio Ōtsuka sebagai Donald Curtis, menghadirkan pengalaman sinematik yang tak terlupakan.

Mureks