Keuangan

Pernyataan Trump Tekan Wall Street: S&P 500 dan Dow Jones Terkoreksi dari Rekor

NEW YORK, Mureks – Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (7/1/2026) waktu setempat, atau Kamis pagi WIB. Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi dari level rekor tertinggi yang sempat dicapai di awal perdagangan, dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump serta kekhawatiran pasokan minyak global.

Indeks pasar luas S&P 500 turun 0,34 persen, mengakhiri perdagangan di level 6.920,93. Sementara itu, indeks Dow Jones yang beranggotakan 30 saham unggulan anjlok 466 poin atau 0,94 persen, berada di posisi 48.996,08. Berbeda dengan kedua indeks tersebut, Nasdaq Composite justru menguat 0,16 persen, ditutup di level 23.584,27.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Sektor keuangan dan energi, yang sempat menunjukkan kinerja kuat di awal tahun 2026, mengalami pelemahan signifikan. Kedua sektor ini masing-masing turun lebih dari 1 persen. Saham-saham bank besar seperti JPMorgan, Bank of America, dan Wells Fargo tercatat melemah. Di sektor energi, saham Exxon Mobil, Chevron, dan ConocoPhillips menjadi yang paling tertekan.

Pelemahan di sektor energi tidak terlepas dari penurunan harga minyak mentah. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa otoritas sementara di Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat. Pernyataan ini segera memicu kekhawatiran akan peningkatan pasokan minyak global yang berpotensi membanjiri pasar.

Keith Buchanan, manajer portofolio senior di Globalt Investments, menyoroti kondisi pasar minyak. “Minimnya pergerakan signifikan pada harga minyak mentah per barel, menurut kami, merupakan bentuk kepercayaan bahwa pasar masih jauh dari kondisi ketat dari sisi keseimbangan pasokan dan permintaan,” kata Buchanan, seperti dikutip dari CNBC. Ia menambahkan, “Ada risiko besar terjadinya kelebihan pasokan.”

Meskipun harga minyak terus melemah sejak Selasa, pasar saham sempat menguat pada hari perdagangan sebelumnya. Investor kala itu tampak mengabaikan kekhawatiran atas serangan AS terhadap Venezuela pada akhir pekan. Buchanan menjelaskan, “Apa yang terjadi di Amerika Selatan tidak mengubah prospek pertumbuhan ekonomi AS dari sudut pandang pasar saham.”

Mureks mencatat bahwa Buchanan juga mengungkapkan adanya sikap yang terlalu tenang dalam menyikapi risiko geopolitik. “Saya kira ada semacam sikap terlalu tenang dalam menyikapi risiko geopolitik yang menurut kami semakin meningkat, tetapi kami tidak melihat apa yang terjadi di Venezuela benar-benar mengubah arah risiko tersebut, baik naik maupun turun,” lanjutnya. “Kami merasa situasinya masih sangat rawan.”

Tekanan terhadap pasar juga datang dari pernyataan Presiden Trump pada Rabu. Trump menegaskan bahwa ia “tidak akan mengizinkan” perusahaan pertahanan membagikan dividen atau melakukan pembelian kembali saham hingga perusahaan-perusahaan tersebut menanggapi keluhannya terhadap industri tersebut. Pernyataan ini sontak membuat saham-saham sektor pertahanan ikut melemah.

Referensi penulisan: money.kompas.com

Mureks