Film animasi klasik “Pom Poko” (1995) dari Studio Ghibli kembali mengajak penonton menyelami perjuangan epik para tanuki, makhluk mitologi Jepang, dalam mempertahankan rumah mereka dari ancaman modernisasi. Disutradarai oleh Isao Takahata, film ini bukan sekadar tontonan fantasi, melainkan sebuah kritik sosial yang mendalam terhadap dampak pembangunan.
Kisah ini berlatar belakang Jepang pada akhir 1960-an, ketika proyek pembangunan kawasan pinggiran kota bernama New Tama mulai merambah perbukitan Tama di sekitar Tokyo. Hutan yang menjadi habitat alami para tanuki perlahan terpotong dan terpecah, mengancam kelangsungan hidup mereka.
Pantau terus artikel terbaru dan terupdate hanya di mureks.co.id!
Memasuki awal 1990-an, di era Heisei, kondisi semakin genting. Ruang hidup yang menyusut dan kelangkaan makanan memicu pertikaian di antara komunitas tanuki. Namun, atas dorongan Oroku, sang tetua bijak, mereka akhirnya bersatu untuk menghadapi ekspansi manusia.
Perlawanan ini dipimpin oleh karakter-karakter unik seperti Gonta yang agresif, Seizaemon sang guru tua, Oroku yang penuh kebijaksanaan, serta Shoukichi yang muda dan cerdik. Mereka kembali mempelajari kemampuan ilusi yang sempat terlupakan, menggunakannya untuk mengacaukan proyek pembangunan manusia. Menurut Mureks, penggunaan ilusi ini menjadi metafora kuat tentang upaya alam untuk melawan dominasi manusia.
Berbagai aksi pengalihan dilakukan, mulai dari sabotase hingga menakuti para pekerja konstruksi. Namun, upaya tersebut tidak mampu menghentikan laju pembangunan karena pekerja baru terus berdatangan. Dalam keputusasaan, para tanuki meminta bantuan tetua legendaris dari daerah lain.
Bantuan pun datang dari Shikoku, wilayah di mana tanuki masih dihormati. Bersama para tetua, mereka menggelar parade arwah raksasa, sebuah pertunjukan spektakuler yang bertujuan mengingatkan manusia akan keberadaan dunia gaib dan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Sayangnya, usaha besar ini justru dianggap sebagai atraksi hiburan semata oleh manusia, dan gagal menghentikan proyek.
Kegagalan tersebut meruntuhkan persatuan tanuki. Mereka terpecah ke berbagai jalan: ada yang memilih perlawanan keras hingga musnah, ada yang mencoba menarik simpati melalui media, dan ada pula yang menyerah, mencari jalan hidup baru di tengah peradaban manusia.
Dalam satu aksi terakhir, para tanuki menciptakan ilusi besar yang mengembalikan kota ke wujud alaminya, sekadar untuk mengingatkan manusia akan apa yang telah hilang. Setelah itu, sebagian tanuki membaur sebagai manusia, sementara yang lain bertahan seadanya di taman-taman kecil atau pergi ke pedesaan.
Di akhir cerita, Shoukichi, yang telah hidup sebagai manusia, menemukan kembali kawan-kawannya. Pesan moral pun disampaikan langsung kepada penonton, menekankan pentingnya kepedulian manusia terhadap makhluk lain dan kelestarian ruang hidup mereka. Tim redaksi Mureks menilai bahwa pesan ini tetap relevan hingga kini, mengingat isu lingkungan yang semakin mendesak.
Film ini menampilkan deretan pengisi suara senior Jepang, termasuk Makoto Nonomura sebagai Shoukichi dan Yuriko Ishida sebagai Okiyo. Isao Takahata, yang juga menulis skenarionya, berhasil meramu kisah ini dengan sentuhan khas Studio Ghibli yang memadukan fantasi, drama, dan realisme.





