Las Vegas, Mureks – Kesenjangan performa antara merek televisi premium dan ekonomis semakin menipis, sebuah tren signifikan yang disoroti dalam pameran teknologi Consumer Electronics Show (CES) 2026. Merek-merek seperti TCL dan Hisense kini tampil sebagai penantang serius dominasi Sony, LG, dan Samsung, memicu pertanyaan tentang bagaimana produsen akan bereaksi di pasar global.
Inovasi Merek Ekonomis Mengancam Dominasi Tradisional
Selama bertahun-tahun, industri televisi didominasi oleh “tiga besar”: Sony, Samsung, dan LG. Merek seperti Pioneer dan Panasonic juga pernah berjaya dengan TV plasma. Sementara itu, Hisense dan TCL bersaing di segmen menengah, menawarkan nilai terbaik dengan harga terjangkau.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, TCL dan Hisense telah menunjukkan kemajuan performa yang luar biasa. Mereka tidak hanya melakukan peningkatan bertahap, tetapi juga memimpin dengan inovasi teknologi. Hisense, misalnya, menjadi perusahaan pertama yang memperkenalkan TV RGB LED tahun lalu. Sementara itu, TCL X11L tahun ini menjadi TV pertama yang menggunakan quantum dot yang diformulasi ulang dan filter warna baru, sebuah inovasi yang menurut Mureks patut diperhitungkan.
Meski demikian, beberapa keunggulan merek premium masih sulit ditandingi. Sony, misalnya, dikenal dengan pemrosesan gambar yang luar biasa, sementara TV OLED LG menawarkan kontras yang belum bisa dicapai oleh teknologi Mini LED. Namun, kehadiran produk seperti TCL QM9K tahun lalu menjadi pernyataan jelas bahwa merek-merek ini siap bersaing di level teratas.
Kategori “Art TV” dan Tantangan Diferensiasi
Tren lain yang menunjukkan homogenisasi pasar adalah kategori “Art TV”. Dulu, kategori ini identik dengan Samsung, menjadi ciri khas merek tersebut. Kini, hampir setiap produsen memiliki model serupa. CES 2026 menyaksikan pengumuman Amazon dengan Ember Artline TV barunya dan LG dengan Gallery TV.
Semua TV dalam kategori ini menggunakan teknologi edge-lit serupa, dilengkapi bingkai magnetik agar terlihat seperti lukisan, serta menawarkan toko seni (dengan atau tanpa langganan), dan dapat dipasang rata di dinding. Meskipun ada perbedaan kecil seperti kecerahan, efektivitas layar matte, atau konektivitas, pengalaman yang ditawarkan sangat mirip. Kategori yang dulunya memiliki opsi tunggal kini jenuh tanpa margin diferensiasi yang luas.
Di sisi lain, LG juga menghadirkan kembali Wallpaper OLED TV di CES ini. Meskipun memiliki profil sangat ramping yang menempel rata di dinding, mendukung toko seni, dan menggunakan koneksi nirkabel untuk menghilangkan kabel (kecuali daya), TV ini lebih mirip dengan saudaranya, G6, daripada TV seni lainnya.
Pergeseran Persepsi dan Strategi Harga
Seiring dengan semakin kecilnya kesenjangan performa, tantangan bagi TCL dan Hisense bergeser dari menciptakan produk kompetitif menjadi mengubah persepsi publik. Kedua perusahaan ini telah lama dianggap sebagai merek “tingkat kedua”. Meskipun pangsa pasar penjualan mereka meningkat, persepsi publik masih menempatkan mereka sebagai produsen TV kelas menengah, bukan kelas atas.
Sebagian dari persepsi ini kemungkinan besar terkait dengan strategi harga Hisense dan TCL yang umumnya lebih rendah dibandingkan LG, Samsung, dan Sony. Tim redaksi Mureks mencatat bahwa jika tren harga ini berlanjut dengan model-model baru yang diumumkan di CES, dan tingkat performa sebanding di seluruh merek, maka “tiga besar” harus merespons dengan menurunkan harga atau berisiko kehilangan penjualan.
Langkah selanjutnya bagi TCL dan Hisense adalah mendobrak citra “tingkat kedua” tersebut dan membangun kembali diri mereka sebagai inovator sejati. Tahun 2026 bisa jadi merupakan tahun di mana pergeseran ini terjadi. Kini setelah merek-merek underdog ini mencapai performa yang sebanding, tugas ada pada tim pemasaran mereka untuk mengubah persepsi publik.






