Hiburan

Perfect Days: Menyelami Ketenangan Hirayama, Petugas Kebersihan Tokyo yang Penuh Makna

Film drama Perfect Days (2023) karya sutradara Wim Wenders mengajak penonton menyelami kehidupan Hirayama, seorang petugas kebersihan toilet umum di proyek The Tokyo Toilet, kawasan elit Shibuya, Tokyo. Meskipun bekerja jauh dari rumah sederhananya di timur Sungai Sumida, Hirayama menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang teratur dan penuh ketenangan.

Setiap pagi dimulai sejak subuh, diisi dengan pekerjaan yang rapi, teliti, dan penuh rasa bangga. Di sela-sela aktivitasnya, ia menikmati alunan kaset musik lawas di dalam van, membaca buku sebelum tidur, serta merawat dan memotret pepohonan yang begitu ia cintai. Hirayama menemukan makna dalam kesederhanaan, seperti saat makan siang di bawah pepohonan kuil, mengabadikan cahaya matahari yang menyelinap di sela daun, atau yang ia sebut sebagai komorebi.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Kecintaannya pada alam kontras dengan pemandangan modern Tokyo Skytree yang kerap muncul saat ia berkeliling kota. Namun, ketenangan rutinitasnya sedikit terusik oleh kehadiran asistennya, Takashi, yang ceroboh dan sering terlambat. Takashi, yang diperankan oleh Tokio Emoto, memperkenalkan dinamika baru lewat pertemuannya dengan Aya, seorang perempuan muda yang tanpa sengaja ikut masuk ke kehidupan Hirayama.

Masalah kecil muncul ketika Takashi meminjam van Hirayama dan diam-diam memberikan kaset kesayangannya pada Aya. Meski menyadari nilai kaset-kaset tersebut, Hirayama menolak menjualnya, kecuali satu yang terpaksa ia lepas demi membeli bahan bakar. Di sisi lain, Hirayama, yang diperankan oleh Kōji Yakusho, juga menjalani interaksi unik seperti permainan tic tac toe anonim di toilet dan tatapan singkat dengan seorang perempuan asing di taman.

Pertemuan kembali dengan Aya yang mengembalikan kaset disertai ciuman di pipi sempat membuat Hirayama tersentak dari ketenangan rutinnya. Pada hari libur, Hirayama menjalani aktivitas sederhana hingga kedatangan keponakannya, Niko (Arisa Nakano), yang kabur dari rumah sang ibu, Keiko.

Kebersamaan Hirayama dan Niko menghadirkan kehangatan, namun juga membuka luka lama saat Keiko menyinggung kondisi ayah mereka yang sakit demensia. Hirayama menolak untuk bertemu sang ayah, sebuah keputusan yang membuat emosinya runtuh setelah Keiko pergi. Kehilangan, penolakan, dan kesedihan perlahan terakumulasi di balik wajahnya yang tenang.

Ketika Takashi tiba-tiba berhenti bekerja, Hirayama kembali sendirian. Ia juga menyaksikan sisi rapuh orang lain lewat pertemuannya dengan mantan suami pemilik restoran langganannya yang mengaku sekarat karena kanker. Di akhir cerita, Hirayama kembali ke rutinitas awalnya.

Saat mengemudi sambil mendengarkan lagu “Feeling Good”, ekspresi wajahnya memancarkan emosi campur aduk, menegaskan bahwa kebahagiaan bisa hadir dalam kesederhanaan, luka, dan penerimaan hidup apa adanya. Film ini adalah refleksi mendalam tentang makna hidup dan ketenangan batin di tengah hiruk pikuk dunia modern.

Mureks