Dua ikon dunia permainan puzzle, Alexey Pajitnov, kreator di balik fenomena Tetris, dan ErnÅ‘ Rubik, arsitek Hungaria penemu Rubik’s Cube, baru-baru ini bertemu dalam sebuah kolaborasi yang menghasilkan produk unik: Rubik’s Tetris Cube. Pertemuan ini tak hanya melahirkan inovasi, tetapi juga memicu pernyataan menarik dari Pajitnov mengenai makna Rubik’s Cube bagi peradaban manusia.
Rubik’s Tetris Cube menawarkan pengalaman baru bagi penggemar. Berbeda dari kubus Rubik tradisional yang menuntut penyusunan warna solid di setiap sisi, versi kolaborasi ini mengharuskan pemain membentuk enam tetromino Tetris pada setiap wajah kubus. Produk ini bahkan dilengkapi dengan dudukan berbentuk tetromino garis untuk memamerkan hasil kreasi.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Pajitnov, yang dikenal dengan karyanya yang mendunia, tak dapat menyembunyikan kekagumannya terhadap ErnÅ‘ Rubik dan ciptaannya. “Pada dasarnya, saya sangat gembira bertemu Tuan Rubik hari ini,” ujar Pajitnov, seperti yang dicatat Mureks. Ia melanjutkan, “Saya pikir kubus ini adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya dihargai orang, karena saya pikir itulah simbol peradaban modern.”
Kekaguman Pajitnov tidak berhenti di situ. Ia bahkan berpendapat bahwa Rubik’s Cube layak menjadi salah satu bukti peradaban manusia yang dikirim ke luar angkasa. “Jika saya harus menempatkan sesuatu sebagai bukti peradaban manusia di luar… pada objek antarbintang, itu akan menjadi salah satu dari sepuluh objek yang pasti akan saya tempatkan sebagai bukti peradaban manusia,” tegasnya.
Pernyataan ini merujuk pada kebiasaan manusia mengirimkan objek budaya ke luar angkasa, seperti piringan emas pada pesawat Voyager. Ketika ditanya apakah Tetris juga pantas dikirim, Pajitnov dengan rendah hati menolak perbandingan tersebut. “Saya berharap, tapi sayangnya itu terlalu rumit,” katanya.
“Anda perlu menempatkan komputer dengan [Tetris], deskripsi antarmuka pengguna, dan sebagainya. Ini [Rubik’s cube] sangat sederhana dan sangat jelas. Ini semacam karya yang tidak bersaing,” jelas Pajitnov, menyoroti kesederhanaan dan kejeniusan desain Rubik’s Cube yang mandiri tanpa perlu perangkat tambahan.
Menjelang akhir pertemuan, Pajitnov juga menyampaikan pandangan filosofisnya tentang esensi teka-teki dan hiburan, sekaligus menyentil obsesi budaya saat ini terhadap kreasi kecerdasan buatan (AI). “Teka-teki bukan tentang semacam pencapaian di dunia,” ujarnya.
“Ini terutama tentang kesenangan. Memecahkan teka-teki memberi Anda perasaan bahagia yang luar biasa, dan itulah yang kami hasilkan saat membuat teka-teki untuk pelanggan kami. Kami memberi mereka jam-jam kebahagiaan yang panjang. Itulah yang kami lakukan. Dan tidak ada kecerdasan buatan yang akan menghentikan kami,” pungkas Pajitnov, menegaskan nilai intrinsik dari teka-teki buatan manusia.



