Otomotif

Pecah Ban Depan Lebih Mematikan: Ahli Ungkap Bahaya Fatal dan Reaksi Keliru Pengemudi di Jalan Raya

Pecah ban merupakan salah satu kondisi darurat paling berbahaya yang dapat dialami pengemudi di jalan raya, dengan risiko fatal yang jauh lebih tinggi jika terjadi pada ban bagian depan. Tak sedikit insiden kecelakaan lalu lintas yang berujung pada mobil terbalik, dipicu oleh pecahnya ban depan secara mendadak.

Menurut Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, bahaya besar dari pecah ban depan sangat berkaitan erat dengan perubahan distribusi beban kendaraan serta reaksi spontan yang diberikan oleh pengemudi. “Hal ini terjadi karena saat kendaraan diperlambat terlebih ketika direm, beban kendaraan akan berpindah ke roda depan,” kata Jusri kepada Kompas.com, Kamis (8/1/2026).

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Ancaman Gaya Tarik dan Reaksi Panik

Masalah krusial muncul ketika ban depan, yang seharusnya menanggung beban lebih besar saat pengereman, justru berada dalam kondisi rusak atau pecah. Kondisi ini menciptakan dinamika yang sangat tidak stabil bagi kendaraan.

“Pada kondisi ban depan pecah, perbedaan tinggi roda menimbulkan gaya tarik ke arah roda yang lebih rendah. Semakin besar perlambatan yang dilakukan, semakin besar pula gaya yang menarik kendaraan ke arah tersebut,” jelas Jusri, yang pernah menimba ilmu berkendara di Rob Slotermaker Skid Control School, Zandvoort, Belanda.

Jusri memberikan gambaran sederhana yang sering terjadi di jalan raya. “Sebagai contoh, jika ban depan kanan pecah, maka saat pengemudi memperlambat laju, akan muncul gaya yang menarik kendaraan ke kanan,” tambahnya.

Banyak pengemudi keliru mengira bahwa gaya tarik tersebut akan hilang saat setir diluruskan atau dibelokkan. “Gaya ini tetap ada meski setir dalam posisi lurus atau sudah dibelokkan. Dalam kondisi panik, pengemudi biasanya kembali menginjak rem, yang justru memperbesar gaya tarik tersebut,” tegasnya.

Situasi menjadi semakin berbahaya ketika pengemudi bereaksi secara refleks dengan membanting setir ke arah berlawanan. “Pada saat pengereman keras dan setir dibelokkan secara tiba-tiba, kendaraan cenderung tetap bergerak lurus mengikuti arah momentum, bukan arah roda kemudi. Akibatnya, mobil terasa seperti ditarik ke kanan, padahal sebenarnya masih melaju lurus,” papar Jusri.

Risiko Limbung dan Terbalik

Risiko belum sepenuhnya hilang bahkan setelah kecepatan kendaraan melambat, terutama pada kendaraan dengan dimensi tinggi. “Pada kecepatan rendah, posisi roda depan yang sudah dibelokkan penuh ke kiri dapat membuat kendaraan menjadi limbung. Kondisi ini sangat berisiko pada kendaraan dengan dimensi tinggi, seperti SUV, MPV besar, truk, atau bus,” kata Jusri.

Bahaya lain muncul ketika pengemudi tiba-tiba melepas pedal rem setelah kecepatan turun drastis. “Ketika kecepatan sudah melambat lalu rem dilepas secara tiba-tiba, bagian depan kendaraan bisa mengalami efek memantul atau bouncing,” ungkapnya.

“Pantulan tersebut dapat membuat kendaraan terangkat dan akhirnya terbalik ke arah sisi ban yang pecah,” pungkas Jusri. Berdasarkan catatan Mureks, insiden pecah ban seringkali menjadi pemicu kecelakaan serius yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat dari pengemudi.

Mureks